Selasa, 12 Maret 2013

Kompleks Candi Tondowongso



Oleh: Novi BmW
Sarasehan Sejarah di Univ. Negeri Malang (Kamis, 15 Maret 2012)

1.       LOKASI 

Secara geografis lokasi Situs Tondowongso berada di dukuh Tondowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Berbatasan dengan Desa Tiru lor yang terletak disebelah selatan, Desa Semanding disebelah barat, dan Desa Adan Adan yang terletak disebelah timur dan utara. Secara astronomi lokasi situs berada di koordinat 07⁰ 47’ 25,4’’ LS dean 112⁰ 08’ 32,8” LS (Ekawati, L. 2008).
Peta Kabupaten Kediri

2.       PENEMUAN

Pada awal tahun 2007 (Januari-Maret) para pekerja pemborongan tanah di dusun Tondowongso menemukan struktur batu bata (tembok selatan) namun tidak ada pelaporan kepada pihak berwenang. Namun setelah penggalian diteruskan ke arah yang lebih utara, para pekerja kaget saat menemukan struktur bangunan batu bata beserta beberapa arca. Atas penemuan yang terakhir ini kemudian pihak penggali tanah melaporkan kepada pihak berwenang. Penggalian tanah tersebut berada di lahan milik tiga orang, yaitu Pak Kiran (warga Desa Adan-Adan), Pak Munawar (Sekdes Desa Gayam saat itu), dan H. Suryani (warga Desa Gayam).

3.       BENTUK TEMUAN DAN TATA RUANG

a.     Dinding Selatan (dinding Kluster?)


Struktur dinding batu bata ini memiliki arah timur-barat (lebih tepatnya tenggara-barat laut). Ditemukan paling awal oleh warga (pekerja/penambang tanah). Kondisinya sangat rusak parah, hamper semua batu bata dibongkar. Tertinggal bekas galian dan dasar struktur yang memanjang arah timur-barat.  Setelah ditemukan dan digali tidak ada pelaporan kepada pihak berwenang di Desa Gayam, sehingga kerusakan sangat parah. Sebagian batu bata ada yang digunakan pondasi rumah, semen merah dan selebihnya di jual entah kemana. Dari pengukuran Tim Balai Arkeologi Yogyakarta dinding selatan yang masih tersisa (lebih ke barat dan ke timur) memiliki tebal 130 cm (Riyanto, S, dkk. 2010).
Dinding Kluster
(Novi BmW, 2007)
  
b.      Dinding Timur (Pagar Keliling kompleks percandian?)



Struktur dinding batu bata ini memiliki arah utara-selatan (lebih tepatnya timur laut-barat daya). Penemuan dinding ini merupakan penemuan kemudian saat penggalian tanah diperlebar kea rah timurlaut dan utara. Kondisinya termasuk lebuh baik dari pada tembok selatan. Dari bentuk dinding yang tersingkap sangat terlihat struktur lapisan tanah yang menimbun akibat aliran lava dari letusan Gunung Kelud. Di beberapa bagian bahkan masih terlihat dinding yang meleok hampir roboh karena terjangan/ tekanan arus dari arah timur. Dari pengukuran Tim Balai Arkeologi Yogyakarta dinding timur yang tersingkap ini memiliki tebal 170 cm (Riyanto, S, dkk. 2010).
  
c.       Pagar gugus candi (pagar percandian?)

Pagar gugus candi pada prinsipnya merupakan bagian integral dari gugus bangunan candi. Gugus candi dalam hal ini terdiri dari sebuah bangunan induk dan tiga buah bangunan perwara. Dari ekskavasi dan pengukuran Tim Balai Arkeologi Yogyakarta pagar gugus candi ini memiliki tebal 90 cm (Riyanto, S, dkk. 2010).

d.      Struktur Bangunan Utama (komplek percandian)

1.       Arca Dewa berkepala empat
Ciri-cirinya memiliki Empat Wajah (Catur Muka), duduk bersila di atas padmasana ganda bertangan empat. Kedua tangan depan masing-masing diletakkan di atas lutut. Ibu jari dan kelingking tangan kanan saling bertemu dan ketiga jari lainnya lurus.  Tangan kanan belakang memegang aksamala dan yang kiri memegang Camara. Pada keempat kepalanya memakai Jatamakuta berhiaskan Candrakaala (Ekawati, L. 2008). Pada umumnya tokoh dewa berkepala empat merupakan identifikasi terhadap Dewa Brahma. Namun untuk kasus Situs Tondowongso ada pula yang mengidentifikasikannya sebagasi Dewa Siwa Caturmuka.

2.       Arca Dewa Candra
Dewa Candra atau Dewa Bulan sering dihubungkan dengan Dewa Kesuburan. Pada situs Tondowongso ditemukan dua buah arca Dewa Candra. Salah satunya terletak didekat arca Surya dan Nandi, dan yang lain terletak di dinding pagar keliling sebelah timur. Cirri-ciri arca Dewa Candra ini adalah duduk bersila dengan kaki kiri di atas kaki kanan pada Padmasana ganda. Bertangan dua, tangan kanan di atas pangkuan dengan telapak tangan terbuka dan terdapat kuncup padma, sedangkan tangan kiri di atas lutut kiri. Mempunyai rambut ikal dan panjang rambut sampai bahu, kepala memakai jatamakuta. Dibelakang arca terdapat hiasan bulan sabit dan pita yang ujungnya mengarah ke atas, selain itu juga terdapat prabha (Ekawati, L. 2008).

3.       Arca Dewa Surya
Arca Dewa Surya Situs Tondowongso digambarkan duduk bersila di atas padmasana ganda. Kedua tangan diletakkan di atas kedua lutut, dan telapak tangan kanan terbuka, di atasnya terdapat padma, sedang tangan kiri dengan jari-jari di tekuk memegang sampur. Kepala memakai Jatamakuta. Di belakang arca terdapat sirascakra dengan sisi sejajar dan prabha berbentuk bulat telur (Ekawati, L. 2008).

4.       Arca Nandi
Ditemukan dua Nandi, salah satunya berada pada bangunan bersebalahan bilik dengan arca Candra dan Surya. Sedang Nandi yang lain berada pada deretan arca-arca yang ditemukan didinding pagar keliling sebelah timur (Ekawati, L. 2008).

5.       Yoni
Yoni Situs Tondowongso ditemukan dalam bilik yang dinuat dari batu putih dan penggarapannya sangat rapi dan halus. Dibawah carat terdapat hiasan kepala naga. Yoni ini berukuran kecil, tingginya 28 cm, panjang sisinya berukuran 31 x 31 cm (Ekawati. L. 2008).

6.       Arca Dewi Durgamahesasuramardini
Biasanya digambarkan berdiri di atas seekor lembu yang ia taklukkan. Dalam mitologi disebutkan bahwa lembu ini adalah penjelmaan raksasa Asura yang pernah menyerang kayangan dan di taklukkan oleh Dewi Durga. Pada umumnya durga memiliki tangan berjumlah 8, masing-masing tangan memegang Cakra, Pedang, Vajra, ekor lembu, Cangka, Tameng, Busur dan yang terakhir menjambak rambut Raksasa Asura (Soekmono, 1973).

Selain arca-arca yang disebutkan di atas, ditemukan pula arca Agastya, Nandiswara, Ardhanari, Lingga, Fragmen kepala arca dewa, dan fragmen kaki arca dewa. Dilihat dari temuan-temuannya, maka dapat di identifikasikan Situs Tondowongso merupakan reruntuhan bangunan Candi Hindi Saiva.

Formasi gugusan bangunan candi adalah sebuah candi induk menghadap ke barat dan depannya terdapat tiga buah bangunan perwara menghadap timur, di barat bangunan perwara terdapat gapura yang menyatu dengan pagar Candi (Riyanto, S. 2010).

4.       KETERKAITAN DENGAN SITUS LAIN

a.       Candi Gurah

Pada tahun 1957 di dusun Sentul, Desa Tiru Lor, Kecamatan Gurah pernah ditemukan sejumlah arca dan struktur bangunan di areal lahan milik Pak Said. Lokasi temuan hanya berjarak 200 m lurus arah selatan dari lokasi Candi Tondowongso. Dari hasil penelitian Bapak Soekmono (1958-1959) di dusun Sentul tersebut terdapat sebuah candi induk dan tiga buah candi perwara yang terletak di depannya. Serta arca-arca yang di temukan dalam bilik candi perwara.  Arca-arca tersebut adalah Brahma, Candra, Surya, Nandi dan Yoni (Ekawati, L. 2008).
Temuan arca dari Candi Gurah maupun Candi Tondowongso mempunyai persamaan, yaituarca Brahma, Candra, Surya, Nandi, dan Yoni. Cara penempatan arca-arca di kedua candi dapat dikatakan sama, meskipun bangunan tempat arca Candra, Surya dan Nandi dari Tondowongso belum jelas bentuknya.
Candi Gurah
(Soekmono, 1969)

b.      Situs Gapura Ponijo

Pada tahun 2007 setelah penemuan Situs Candi Tondowongso, pada jarak 450 m arah barat situs ditemukan pula struktur batu bata yang berwujud gapura (Ekawati, 2008, dalam Riyanto, S, dkk. 2010). Lokasinya berada di belakang rumah Bapak Ponijo, sehingga situs ini disebut Situs Ponijo.
Jika di tarik garis lurus ke timur, maka lokasi gapura ini berada di tengah-tengah antara Candi Tondowongso dan Candi Gurah. Jika ketiga lokasi temuan situs inisaling terkait satu dengan yuang lain, dapatlah diperkirakan situs Tondowongso, Gurah dan Ponijo merupakan kompleks percandian yang luas.

c.       Situs Semen dan Sumbercangkring.

Riyanto, S, dkk (2010) mengindikasikan adanya keterkaitan historis antara Situs Semen, Situs Sumbercangkring dan Situs Tondowongso. Hal tersebut didasarkan pada kesamaan dominasi bahan bata, ukuran bata, serta teknik konstruksi yang memiliki kemiripan.
Situs Semen-Pagu yang berwujud bangunan adalah struktur-struktur batu bata, di antaranya diduga merupakan tembok dan saluran air. Data arkeologi berwujud bagian bangunan adalah dua buah jaladwara yang terbuat dari bahan batu dan berukuran sekitar 100 cm untuk panjang dan tingginya. Sementara itu, data arkeologi yang berupa artefak adalah sebuah arca (Wisnu di atas Garuda) dengan tinggi 72 cm, pipisan, lumping, serta artefak wadah dari bahan tanah liat (tembikar), batuan, maupun porselen (Riyanto, S, dkk. 2010).
Situs Sumbercangkring berupa struktur bangunan yang tinggal 7 lapis bata. Selain struktur bangunan bata, dilokasi itu juga ditemukan sebuah arca Dwarapala yang belum selesai pengerjaannya serta fragmen-fragmen bata yang berserakan (Riyanto, S, dkk. 2010).

5.       MASA PEMBANGUNAN

Masih banyak misteri yang belum terungkap pada Situs Tondowongso. Namun ada beberpa pendapat yang menyebutkan bahwa Situs tersebut berasal dari masa Kerajaan Tertentu. Jika Candi Tondowongso sezaman dengan Candi Gurah, maka pendapat Bapak Soekmono (1969) tentang kemungkinan Candi Gurah berasal dari Masa Kerajaan Panjalu/Kadhiri. Bahkan beliau mengidentifikasikan bahwa Candi Gurah memiliki Gaya Khas peralihan dari model Candi Jawa Tengahan menuju model Candi Jawa Timuran. Jika indikasi awal Tim Balai Arkeologi Yogyakarta yang mengidentifikasi adanyaketerkaitan antara Candi Tondowongso dengan Situs Semen dapat di terima, maka dugaan bahwa Candi Tondowongso berasal dari masa Kadiri sangatlah kuat. Karena pada situs Semen pernah ditemukan inskripsi angka tahun 1119 Saka (1197 M) (Knebel, 1910). Tahun itu sama dengan tahun dikeluarkannya Prasasti Palah (1119 Saka) oleh Çri Mahārajā Çri Çarwweçwara Triwikramāwatarānindita Çrnggalañcana Digjayotunggadewanāma.

Yang unik merupakan temuan Ibu Lisa Ekawati (almh) (2008), dimana beliau mengidentifikasi adanya gaya Singhasarian. Yaitu keberadaan hiasan pita di belakang kepala arca Dewa Candra yang berkibar ke atas. Motif pita semacam itu menginggatkan bentuk hiasan pada arca-arca masa Singhasari . Kemudian ada pula yang berpendapat Situs Tondowongso peninggalan masa Majapahit. 

Terakhir adalah pendapat yang menyatakan bahwa Situs Candi Tondowongso sejaman dengan Candi Palah (Penataran) yaitu pada masa Kerajaan Panjalu/ Kadhiri. Namun masih tetap dipergunakan pada masa Kerajaan Tumapel (Singhasari) hingga Majapahit. Sepertihalnya Candi Penataran yang memiliki bukti paling tua berasal dari masa Kadiri, namun ada pula bukti angka tahun maupaun ikonografi yang menunjukkan masih digunakannya situs hingga masa Majapahit akhir.



Daftar Rujukan

Ekawati, L. 2008. Arca-Arca Dari Candi Tondowongso Dan Candi Gurah, Kediri. Berkala Arkeologi. Tahun XXVIII No. 2: 43-54. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta
Knebel, J. 1910. Beschrijving van de Hindoe-oudheden in de Afdeling Kediri (Residentie Kediri). Dalam Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-indie voor Oudheidkundig Onderzoek of Java en Madura 1908. S-Gravenhage; Martinus Nijhoff & Batavia; Albrecht & Co
Riyanto, S, dkk. 2010. Laporan Penelitian Arkeologi Situs Tondowongso, Kediri, Jawa Timur 2010 (Tahap III). Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta
Soekmono. 1969. Gurah the link between the central and the East Javanese arts. Bulletin of the Archaeological Institute of the Republic of Indonesia.
---------------. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Minggu, 03 Maret 2013

PERCABANGAN SUNGAI BRANTAS


oleh : Novi BmW

Percabangan Bengawan Brantas
Gara-Gara Prasasti Kamalagyan (959 Saka/1037 Masehi) pada artikel terdahulu, maka kita akan membahas beberapa permasalahan percabangan Bengawan Brantas.  Permasalahan seperti benarkah debit air Sungai Mas dahulu lebih besar daripada Sungai Porong? Jika benar, sejak kapan debit air Sungai Porong lebih besar dari pada Sungai Mas? Mari kita keluarkan beberapa fakta yang memusingkan kepala gara-gara Prasasti Kamalagyan pada artikel sebelumnya.

Faktanya sekarang Bengawan Brantas bercabang menjadi tiga di sekitar daerah Mlirip, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Namun dalam Prasasti Kamalagyan disebutkan bahwa dahulu Bengawan telah terpecah menjadi tiga alur di sekitar Krian Sidoarjo. Sebenarnya ada dua kemungkinan yang bisa dikembangan terhadap informasi tersebut:

1.Bengawan Brantas memang bercabang di sekitar Mlirip seperti sekarang. Yang dimaksud “bangawan” dalam Prasasti Kamalagyan adalah cabang Bengawan Brantas yang sekarang kita sebut Sungai Mas. Jadi yang terpecah menjadi tiga di Wringinsapta adalah Sungai Mas kuno. Sehingga selain Sungai Mas dan tiga pecahannya, Bengawan Brantas juga masih memiliki cabang lain yang sekarang kita sebut sebagai Sungai Porong. Namun sungai terakhir ini dalam Prasasti Kamalagyan tidak disangkut pautkan sama sekali, karena kejadian hanyalah permasalahan di Sungai Mas.

2.“Bengawan” yang dimaksud Prasasti Kamalagyan memanglah merujuk pada Bengawan Brantas inti. Jadi dahulu percabangan memang terdapat di sekitar Waringinsapta dan terpecah menjadi tiga aliran seperti informasi Prasasti Kamalgyan. Aliran ke utara adalah aliran utama dengan debit air yang paling besar. Kemudian cabang yang ke timur adalah yang paling kecil debit airnya, dan terakhir adalah aliran ke arah tenggara (selatan) dengan debit air terbesar ke dua setelah aliran yang ke utara.
Percabangan di Waringinsapta
 
Kemungkinan mana yang lebih mendekati kebenaran??mari kita lihat fakta-fakta yang berada dalam beberapa sumber sejarah berikut ini:

1.    Prasasti Kudadu (1216 Saka/1294 Masehi)

Prasasti ini merupakan hadiah untuk penduduk Desa Kudadu yang telah membantu pelarian narāryya Sanggramawijaya pada saat Kerajaan Tumapel dihancurkan oleh serangan Kerajaan Glang-Glang. Pelarian narāryya Sanggramawijaya dari kejaran pasukan Jayakatyeng tersebut merekam adanya percabangan Bengawan Brantas di daerah deltanya. Informasi tersebut terekam  dengan baik sebagaimana berikut:

Lempeng IV verso:
.... ya ta matangyan kari ta çri mahārāja i rabut carat, makawasanang gumintir angalor datĕng i pamwatan apajĕg loring lwah ....

Lempeng V verso:
....ri tka çri mahārāja pwe kembang çri, amanggih ta sira çatru muwah, binuru ta sira muwah, irika ta çri mahārājanalayu mangalor amgat bangawan sahabalanira kabeh .... (Yamin, 1962).

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Lempeng IV verso:
.... itulah sebabnya maka Çri Maharaja tinggal di Rabut Carat, dan setelah itu pergi ke utara menuju ke Pamwatan Apajeg, di utara Sungai...

Lempeng V verso:
.... sesampainya Çri Maharaja di Kembang Çri[1] bertemu lagi beliau dengan para musuhnya[2], diburulah beliau oleh mereka, ketika Çri Maharaja lari ke arah utara, menyeberang bengawan bersama pengikutnya semua .... (Munib, NB. 2011).

Istilah “lwah” pada lempeng IV Prasasti Kudadu, menunjuk pada Sungai Porong lama. Sedangkan istilah “bangawan” pada lempeng V Prasasti Kudadu, menunjuk pada Sungai Mas[3]. Perbedaan istilah antara “lwah” dengan “bangawan” menunjukkan bahwa debit air yang dialirkan “lwah” lebih sedikit daripada “bangawan” yang oleh Zoetmulder (1995) diartikan sebagai sungai besar. Hal ini menunjukkan bahwa volume air di Sungai Porong dahulu lebih kecil dari pada Sungai Mas (Munib, NB. 2011).

2.    Prasasti Canggu (1280 Saka/1358 Masehi)

Keberadaan pelabuhan sungai di sepanjang tepian Bengawan Brantas dan Bengawan Solo terekam dalam Prasasti Canggu (1280 Çaka). Pada lempeng ke-5 disebutkan nama-nama desa pelabuhan (naditira pradeça) di tepi Bengawan Brantas dan Bengawan Solo. Jika lempeng ke-4 dari prasasti ini dapat ditemukan, maka jumlah pelabuhan di tepi Bengawan Brantas dapat ditelusuri lebih lengkap dari daerah hulu hingga hilir. Adapun nama desa-desa pelabuhan dalam Prasasti Canggu (1280 Çaka) adalah sebagai berikut:

Lempeng 5 sisi depan (recto):
1. Nusa, i tĕmon, parajĕngan, i pakatekan, i wunglu, i rabutri, i bañu mŗdu, i gocor, i tambak, i pujut,
2. i mirĕng, ing dmak, i klung, i pagdangan, i mabuwur, i godong, i rumusan, i canggu, i randu gowok, i wahas, i nagara,
3. i sarba, i waringin pitu, i lagada, i pamotan, i tulangan, i panumbangan, i jruk, i trung, i kambang çri, i tda, i gsang, i
4. bukul, i çurabhaya, muwah prakāraning naditira pradeça sthānaning anāmbangi….. (Pigeaud, 1960).

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Lempeng 5 sisi depan (recto):
1. Nusa, di Temon, Parajengan, di Pakatekan, di Wunglu, di Rabut Ri, di Banu Mrdu, di Gocor, di Tambak, di Pujut,
2. di Mireng, di Dmak, di Klung, di Pagdangan, di Mabuwur, di Godong, di Rumusan, di Canggu, di Randu Gowok, di Wahas, di Nagara,
3. di Sarba, di Waringinpitu, di Lagada, di Pamotan, di Tulangan, di Panumbangan, di Jruk, di Trung, di Kambang Çri, di Tda, di Gsang, di
4. Bukul, di Çurabhaya, Juga segala macam masalah di wilayah pinggir sungai tempat penyebrangan......(ganti pelabuhan di sepanjang Bengawan Solo)(Munib, NB. 2011).

Keterangan dari Prasasti Kamalagyan (959 Çaka), Prasasti Kudadu (1216 Çaka) dan Prasasti Canggu (1280 Çaka) menunjukkan bahwa kemungkinan ke dua yang lebih nyata, yaitu Bengawan Brantas bercabang menjadi tiga di Waringinsapta. Dilihat dari penyebutan dalam Prasasti Canggu (1280 Çaka) hanya dua cabang yang besar dan dapat dilayari hingga pedalaman. Setelah menyebut Waringinsapta, dalam Prasasti Canggu langsung menyebut nama desa pelabuhan Lagada, Pamotan, dan Tulangan. Jika dirunut, maka setelah menyebutkan Waringinsapta penyebutan dimulai dari salah satu muara cabang Bengawan Brantas. Pamotan dapat diidentifikasi dengan Pamwtan Apajeg dalam Prasasti Kudadu (1216 Çaka), sekarang menjadi Desa Pamotan, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Sedangkan Tulangan sekarang menjadi nama desa dan Kecamatan Tulangan (Munib, NB. 2011).

Setelah menyebut nama desa pelabuhan Tulangan berganti ke cabang Bengawan Brantas berikutnya. Dimulai dari Panumbangan yang diidentifikasi sebagai Desa Penambangan, Kecamatan Balongbendo. Kemudian Jruk sekarang menjadi Desa Jeruklegi, Kecamatan Balongbendo. Lalu Trung sekarang menjadi Desa Terung di Kecamatan Krian. Kambang Çri menjadi Desa Bangsri masuk wilayah Kecamatan Sukodono. Adapun Tda masih belum dapat ditemukan, kemungkinan desa ini berada di Kecamatan Taman[4]. Setelah Tda kemudian menuju Gsang yang diidentifikasikan dengan daerah Pagesangan. Desa pelabuhan Bukul dapat dihubungkan dengan Kelurahan Bungkul[5]. Dan terakhir pada muara Bengawan Brantas cabang utara adalah desa pelabuhan Çurabhaya yang kini menjadi ibukota Propinsi Jawa Timur (Munib, NB. 2011).
Perkiraan Tiga Percabangan Bengawan Brantas kuno

Dilihat dari peta topografi, terlihat bahwa terdapat bekas meander aliran Bengawan Brantas yang kini telah mati di sekitar Deltanya. Hal ini membuktikan bahwa dahulu telah terjadi perpindahan aliran Bengawan Brantas. Bekas aliran dan meander-meander tersebut telah menjadi daerah pemukiman dan persawahan penduduk. Contoh menarik yang dapat membantu menguak percabangan Bengawan Brantas adalah bekas meander di Mojokerto

Di Kota Mojokerto Bengawan Brantas bertemu dengan Sungai Brangkal. Adanya bekas meander disebrang pertemuan tersebut terlihat bahwa dahulu pertemuan tersebut membentuk sebuah aliran yang mengarah ke utara, yaitu menerobos Desa Terusan, menuju Desa Sidoharjo, berbelok ke timur ke Desa Penompo, kembali lagi ke arah utara menuju Desa Canggu dan Jetis, kemudian ke arah timur menuju Surabaya. Di Desa Jetis Bengawan Brantas bertemu (tempuran sungai) dengan Sungai Marmoyo (Sungai Jetis), dimana Desa Canggu terletak persis terapit pada pertemuan sungai tersebut (Munib, NB. 2011).

Perpindahan aliran sungai memang sudah biasa terjadi baik yang terjadi secara alami maupun atas usaha manusia. Tergolong perpindahan aliran seperti apakah Bengawan Brantas, dan sejak kapan itu terjadi???

Perpindahan aliran Bengawan Brantas di Mojokerto tersebut ternyata tidaklah terjadi secara alami, namun merupakan hasil usaha manusia. Peristiwa perpindahan aliran tersebut dapat dikaitkan dengan upaya penaklukan Surabaya oleh Kesultanan Mataram pada tahun 1625 Masehi. Nasution (2006) merujuk pada Graaf (1974) menceritakan proses terjadinya peristiwa tersebut sebagai berikut:
”...pasukan Mataram bergerak maju melalui Japan (Mojokerto) ke Terres atau Terusan dan mereka bertahan untuk beberapa waktu. Dari sini pasukan Mataram melakukan satu teror dengan membendung sungai. Hanya sedikit air yang dialirkan. Air yang mengalir sedikit ini dikotori dengan keranjang-keranjang yang berisi bangkai dan buah aren, yang diikat pada tonggak-tonggak di dalam sungai. Karena sumber air yang digunakan masyarakat Surabaya pada masa itu adalah Kalimas, maka penduduk Surabaya banyak yang menderita penyakit perut, gatal-gatal, demam, dan batuk-batuk. Akibat dari blokade, para pembesar Surabaya akhirnya menempuh jalan damai, yakni dengan mengirim utusan yang di-pimpin oleh Raden Pekik. Maksud kedatangan Raden Pekik ini disambut baik dan akhirnya sejak tahun ini Surabaya berada dibawah panji-panji Kerajaan Mataram hingga tahun 1743.”

Saya rasa kemungkinan kedua lebih mendekati kebenaran, bahwa setidaknya dahulu sebelum tahun 1625 Masehi Bengawan Brantas masih bercabang di sekitar Waringinpitu, Sidoarjo. Tahun 1625 Masehi aliran utama Bengawan Brantas dipindahkan dengan paksa pada Desa Terusan, Mojokerto. Aliran yang ke utara (Sungai Mas/Sungai Surabaya) hanya mendapat asupan dari Sungai Marmoyo (Sungai Jetis), sehingga debit air sungai yang menuju Surabaya sangat kecil dibandingkan sebelumnya. Aliran utama Bengawan Brantas pada peristiwa 1625 Masehi tersebut barulah berpindah ke aliran yang sekarang kita sebut sebagai Sungai Porong.
Bekas meander Aliran Bengawan Brantas kuno
Sekian saja ya…pembahasan tentang percabangan Sungai Besar Brantas, jika ada kurang lebihnya saya minta maaf sebagai manusia. Jika ada yang berminat meneruskan penelitian percabangan Sungai Brantas di Mlirip silahkan. Proyek Bendungan Mlirip Raya bisa digali sejak kapan dibangun. Masa Kolonial membuat proyek apa agar Sungai Mas (Sungai Surabaya) mendapat asupan air yang lebih besar?? Bagaimana nasib Sungai Terung sebagai salah satu cabang dari Brantas?? Sejak tadi yang dibahas hanya masalah Sungai Mas dan Porong saja…. Selamat rekreasi, inovasi dan berkreasi...Smangat!!!!!

Daftar Rujukan:
Nasution, 2006. Ekonomi Surabaya Pada Masa Kolonial 1830-1930. Surabaya: Intelektual
Munib, NB. 2011. Dinamika Kekuasaan Raja Jayakatyeng di Kerajaan Glang-Glang Pada Tahun 1170-1215 Saka: Tinjauan Geopolitik. Malang: FIS UM
Pigeaud, Th G T. 1924. De Tantu Panggelaran. Leiden 
Yamin, H.M. 1962. Tatanegara Majapahit: Sapta Parwa, I.Djakarta:Prapantja


[1] Sekarang masih ada toponimi namanya menjadi Desa Bangsri di Kecamatan Sukodono, Kabuaten Sidoarjo
[2] Pasukan Jayakatyəng
[3] Sungai Mas bermuara di Selat Madura, wilayah Surabaya
[4] Dari desa pelabuhan Panumbangan (Desa Penambangan) hingga Tda (di wilayah Kecamatan Taman)  termasuk wilayah Kabupaten Sidoarjo
[5] Pagesangan masuk di Kecamatan Gayungan, Surabaya selatan, dan Bungkul berada di Kecamatan Wonokromo, Surabaya tengah.

Perpindahan Aliran Sungai Brantas di Waringinsapta

Oleh : Novi BmW
 
Perkiraan Lokasi Perpecahan di Waringinsapta
Bemmelen (1949) berpendapat bahwa pertumbuhan delta Brantas yang cepat, menyebabkan perpindahan garis pantai ke arah laut[1], selain itu juga menyebabkan terpecah dan berpindah-pindahnya alur-alur aliran sungai pada delta tersebut. 
Pendapat tersebut kiranya ada benarnya untuk kasus Delta Bengawan Brantas. Perpindahan alur aliran Bengawan Brantas pada deltanya terekam dalam Prasasti Kamalagyan, yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga pada tahun 959 Çaka (1037 Masehi). Isi Prasasti Kamalagyan baris 9-14 dalam terjemahan bahasa Indonesia-nya adalah sebagaimana berikut:
  1. .... demikianlah banyaknya tanah pertanian yang sawah-sawahnya tertahan dan tertekan oleh sungai kecil yang akhirnya menjadi bangawan yang menerobos di wa-
  2. ringin sapta, sehingga kuranglah milik raja dan binasalah sawah sawahnya. Memang sangat sukar untuk mencapai tujuan dalam usaha rakyat sekalian yang berusaha menambak bengawan yang menerobos itu. (sungai ini) tidak hanya baru ditambak satu dua kali saja oleh rakyat.
  3. tempat (yang selalu diterobos) ini belum pernah dapat ditundukkan. Maka dari sebab itu Çri Maharaja lekas-lekas memerintahkan penduduk tanah pertanian seluruhnya; oleh “kerkem ri tapa”(?) Çri Maharaja, mereka itu diperintahkan semua bekerja untuk kepentingan negara dengan membuat suatu tambak. (pekerjaan ini) telah diselesaikan dengan baik
  4. oleh Çri Maharaja, sehingga menjadi sempurna dan kuat dan jalan air yang menerobos telah tertutup. Dengan ini sungai bengawan bercabang tiga arusnya dan mengalir ke arah utara, sehingga sukalah hati orang yang berlayar menuju ke hulu (setelah) mengambil muatan di Hujunggaluh. Demikian pula halnya dengan
  5. orang-orang nahkoda dan pedagang yang datang dari kepulauan lain dan bersama-sama bertemu di Hujunggaluh. Penduduk tanah pertanian yang sawahnya (dulu) selalu diserang air bah dan tertekan sangat suka hatinya, karena berakhirlah peristiwa air bah itu; dan dengan ini seluruh sawah (hasilnya) dapat dimiliki,
  6. setelah air sungai bengawan yang menerobos di Waringinsapta dapat ditambak oleh Çri Maharaja.... (Wirjosuparto, 1958: 19-20).
Prasasti Kamalagyan merupakan prasasti batu (linggo prasasti) yang berada di Dukuh Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo. Isi prasasti tersebut memberikan beberapa gambaran geografis di delta Brantas. Gambaran isi prasasti tersebut adalah sebagai berikut:
1.       Daerah delta Bantas merupakan wilayah persawahan.
2.   Aliran Bengawan Brantas sering berpindah arah, sehingga sering menerobos sawah ataupun daerah permukiman penduduk di delta Brantas.
3.    Dahulu Bengawan Brantas merupakan jalur transportasi air yang utama, sebagai jalur distribusi barang dagangan dari hulu ke hilir di pelabuhan Hujunggaluh, dan sebaliknya.
4.       Setelah bendungan Waringinsapta selesai dibangun, maka aliran Bengawan dipecah menjadi tiga. Aliran terbesar menuju ke arah utara, yakni ke arah pelabuhan Hujunggaluh di daerah hilir.
Informasi Prasasti Kamalagyan menunjukkan bahwa dahulu pernah terjadi peristiwa berpindahnya arah aliran Bengawan Brantas dari jalur aliran semestinya di daerah Waringinsapta. Dengan kejadian tersebut masyarakat di daerah Hilir banyak mendapat kerugian, begitu pula Maharaja Airlangga. Sehingga Maharaja membangun sebuah bendungan di daerah Wringinsapta. Setelah bendungan selesai dibangun, aliran Bengawan dipecah menjadi tiga arah, namun volume air yang terbesar diarahkan ke utara menuju Hujunggaluh di Surabaya (Munib, NB, 2011).
Tiga Percabangan Bengawan Brantas
 Lokasi Waringinsapta dapat diidentifikasikan berada di Desa Waringinpitu, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo sekarang. Sehingga lokasi aliran Bengawan Brantas dahulu memiliki volume yang lebih besar pada aliran Sungai Mas. Sehingga dapat dilalui para pelayar dari berbagai mancanegara menuju pedalaman Jawa bagian Timur maupun sebaliknya.
Percabangan di Waringinsapta
Berita dari Prasasti Kamalagyan tersebut sangatlah membantu pembuktian terjadinya perpindahan aliran Bengawan Brantas di daerah hilir. Selain membantu, eh! ternyata dari prasasti tersebut juga menimbulkan masalah BESAR!!!!! sekarang masalahnya… jika dahulu volume air Bengawan Brantas lebih besar ke arah Sungai Mas, maka sejak kapan aliran Sungai Porong lebih besar volumenya?? Nah! Begitu pula masalah percabangan yang ternyata pada masa Airlangga berada di Waringinsapta, dekat Krian, Sidoarjo, dan sekarang berada di Mlirip, Mojokerto??? Hadeh….Gara-gara Prasasti Kamalagyan, semoga Prasasti Kudadu dan Prasasti Canggu dapat membantu jawabnya. amin…. Mau tau jawabya….mau tau??? kita lanjutkan pada pembahasan berikutnya “Percabangan Sungai Brantas”.
Daftar Rujukan:
Bemmelen , R.W.van. 1949. The Geology of Indonesia. The Hague: Government Printing Office
Wirjosuparto, S. 1958. Apa Sebabnya Kediri dan Daerah Sekitarnya Tampil ke Muka dalam Sejarah. Djakarta: FS UI 
Munib, NB. 2011. Dinamika Kekuasaan Raja Jayakatyəng di Kerajaan Glang-Glang Tahun 1170-1215 Çaka: Tinjauan Geopolitik. Skripsi. Malang: FIS UM


[1] Garis pantai mundur, daratan makin luas