Sabtu, 04 Februari 2012

Kesucian Gunung Kelud


Oleh: NB. Munib
Gunung Kelud dilihat dari atas Kali Bladak (10 Mei 2008)
Gunung Kelud merupakan salah satu gunung suci dari sembilan gunung suci di Jawa. Perihal kesuciannya tersebut diabadikan dalam Kitab Tantu Panggelaran. Kitab ini berasal dari tahun 1557 Saka (1635 M)[1]. Dalam kitab ini diceritakan tentang proses pemindahan Gunung Mahameru oleh para dewa dari tanah Jambudwipa[2] ke pulau Jawa, dan terbentuknya gunung-gunung di Jawa. Beginilah kisahnya:

Col andap kulwan, maluhur wetan ikang nuşa jawa; yata pinupak sang hyang mahāmeru, pinalih mangetan. Tunggak nira hana kari kulwan; matangnyan hana argga kelāça ngarannya mangke, tunggak sang hyang mahāmeru ngūni kacaritanya. Pucak nira pinalih mangetan, pinutĕr kinĕmbulan dening dewata kabeh; runtuh teka sang hyang mahāmeru. Kunong tambe ning lĕmah runtuh matmahan gunung katong; kaping rwaning lmah runtuh matmahan gunung wilis; kaping tiganing lmah runtuh matmahan gunung kampud;............ (Pigeaud, 1924).
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Dilepaskan turun di sebelah barat, menuju ke timur pulau Jawa. kemudian dilepaslah Sang Hyang Mahameru, dipindah ke timur. Dasarnya tertinggal di barat. Oleh sebab itu terciptalah gunung yang bernama Kailaca nanti. Mengenai Sang Hyang Mahameru beginilah ceritanya. Puncaknya dipindah ke timur, dikitari oleh semua para dewa; runtuh dari Sang Hyang Mahameru. Setelah jatuh ke tanah terciptalah Gunung Katong[3]; yang kedua tanah jatuh menciptakan Gunung Wilis; yang ketiga tanah runtuh tercipta Gunung Kampud;....….(Munib, NB, 2011).
Dari kutipan di atas, diketahui bahwa sekitar abad 16-17 nama “Kelud” belum digunakan. Gunung Kelud merupakan runtuhan ketiga setelah Gunung Wilis dari rentetan guguran Sang Hyang Mahameru yang dipindahkan oleh para Dewa dari tanah India ke tanah Jawa. Dahulu Gunung Kelud disebut dengan nama “Gunung Kampud”. Jadi, sebagai salah satu bagian dari Sang Hyang Mahameru maka Gunung Kelud adalah gunung suci bagi umat Hindu. Kesucian tersebut dapat pula dilihat dari ditemukannya reruntuhan bangunan suci di lereng-lerengnya. Sebagai contoh adalah Candi Penataran, Candi Wringinbranjang, dan Candi Gambarwetan, serta beberapa pusat kerajaan yang tumbuh kembang di sekitarnya. Sebutlah, Kerajaan Panjalu di nagara Daha berkembang pesat di lembah barat Gunung Kelud.

Tahun 1256 Saka (1334 Masehi) Gunung Kampud meletus hebat. Peristiwa ini diabadikan dalam Kitab Nagarakrtagama Pupuh I baris 4, diperingati sebagai tanda-tanda kelahiran Raja Hayam Wuruk. Isinya sebagaimana berikut:

Ring sakarttu sarena rakwa ri wijil nrpati telasinastwaken prabhu,
An garbbheswara natha ring kahuripan wihaga nirana-manusadhuta,
Lindhung bhumi ketug hudan hawu gereh kilatawiletaning nabhastala,
Guntur tang himawan ri kapudananang kujana kuhaka mati tan pagap.

Artinya:

Pada tahun saka Rttusarena—1256 (1334 Masehi) lahirlah baginda yang dinobatkan menjadi raja,
Sejak dalam kandungan di Kahuripan telah ada tanda-tanda baginda orang yang luar biasa,
Gempa, bumi bergoncang, hujan abu, gemuruh, halilintar, kilat bersambung di langit,
Gemuruh suara gunung Kampud bergetar banyak orang-orang yang hina dan jahat mati tak berdaya (Riana, 2009).

     Ternyata letusan Gunung Kelud tahun 1256 Saka ini direkam pula oleh Kitab Pararaton. Jika Nagarakrtagama (I:4) menyebut gunung yang meletus dengan nama Kampud, lain halnya dengan Pararaton. Kitab yang selesai di tulis tahun 1535 Saka tersebut, hanya menyebut peristiwa "guntur pabanyu pindah i saka 1256" (letusan air berpindah pada tahun saka 1256).

     Apa yang disebut "pabanyu pindah" merupakan peristiwa terlemparnya (meluap) air danau kawah Gunung Kelud saat letusan terjadi. kemudian pada tahun 1298 Saka terjadi peristiwa "gunung hanyar" (Padmapuspita, 1966). Baik peristiwa pabanyu pindah maupun pagunung hanyar merupakan kejadian alam yang terjadi pada Gunung Kelud.

     Peristiwa meluapnya air danau kawah Gunung Kelud sering melanda daerah Kediri maupun Blitar saat terjadi letusan. Letusan tahun 1919 (meninggal sekitar 5160), dan 1966 (meninggal sekitar 210) adalah contoh letusan yang banyak memakan korban pada abad 20 lalu. Sedangkan tahun 1951 (meningal 7) walaupun ada namun lebih sedikit dibandingkan dua tahun lainnya. Hal ini dikarenakan volume air danau kawah tahun 1951 lebih sedikit dari pada dua tahun lainnya. Sedangkan letusan tahun 1990 (meninggal 32) dengan volume air lebih kecil dari tahun 1951, ternyata merenggut nyawa lebih besar. Namun hal tersebut bukanlah dikarenakan banjir lahar air danau kawah, melainkan sebaran rempah-rempah(abu, pasirm kerikil dan batu) yang tidak teredam air danau dengan maksimal menjadi lebih luas. Korban meninggal lebih disebabkan runtuhnya rumah pengungsian yang ditinggali, karena atap bangunan tidak mampu menahan banyaknya rempah-rempah vulkanik.

     Peristiwa gunung hanyar ternyata terulang pada tahun 2007 lalu. Peristiwa lahirnya anak Gunung Kelud tersebut direkam dengan seksama. Dengan ini fenomena munculnya gunung baru di Gunung Kelud tidaklah hanya terjadi sekali saja. Namun jauh pada tahun 1298 Saka (1376 Masehi) telah terjadi fenomena serupa (gunung beranak).

Daftar Rujukan:
Munib, NB. 2011. Dinamika Kekuasaan Raja Jayakatyeng di Kerajaan Glang-Glang Tahun 1170-1215 Çaka: Tinjauan Geopolitik. Skripsi. Malang: FIS UM
Padmapuspita, 1966. Pararaton. Yogyakarta: Taman Siswa
Pigeaud, Th G T. 1924. De Tantu Panggelaran. Leiden: s’Gravenhage, Nederl. Boek en Steendrukkerij voorheen H.L. Smits. 
Riana, IK. 2009. Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama: Masa Keemasan Majapahit. Jakarta: Kompas


[1] Terdapat pada penutup kitab “tlas (s)inurat sang hyang tantu panglaran ring karangkabhujanggan kutritusan, dina u(manis) bu(dha) madangsya, titi sasi kasa, rah 7, tengek 5, rsi pandawa buta tunggal(1557)”(Pigeaud, 1924)
[2] Nama kuno wilayah India
[3] Nama kuno Gunung Lawu

Kesucian Gunung Wilis



Oleh: NB. Munib
Bukit Klotok mirip Kepala Budha dilihat dari Gunung Wilis (22 April 2011)
Gunung Wilis merupakan salah satu gunung suci dari sembilan gunung suci di Jawa. Perihal kesuciannya tersebut diabadikan dalam Kitab Tantu Panggelaran. Kitab ini berasal dari tahun 1557 Saka (1635 M)[1]. Dalam kitab ini diceritakan tentang proses pemindahan Gunung Mahameru oleh para dewa dari tanah Jambudwipa[2] ke pulau Jawa, dan terbentuknya gunung-gunung di Jawa. Beginilah kisahnya:

Col andap kulwan, maluhur wetan ikang nuşa jawa; yata pinupak sang hyang mahāmeru, pinalih mangetan. Tunggak nira hana kari kulwan; matangnyan hana argga kelāça ngarannya mangke, tunggak sang hyang mahāmeru ngūni kacaritanya. Pucak nira pinalih mangetan, pinutĕr kinĕmbulan dening dewata kabeh; runtuh teka sang hyang mahāmeru. Kunong tambe ning lĕmah runtuh matmahan gunung katong; kaping rwaning lmah runtuh matmahan gunung wilis;................(Pigeaud, 1924).
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Dilepaskan turun di sebelah barat, menuju ke timur pulau Jawa. kemudian dilepaslah Sang Hyang Mahameru, dipindah ke timur. Dasarnya tertinggal di barat. Oleh sebab itu terciptalah gunung yang bernama Kailaca nanti. Mengenai Sang Hyang Mahameru beginilah ceritanya. Puncaknya dipindah ke timur, dikitari oleh semua para dewa; runtuh dari Sang Hyang Mahameru. Setelah jatuh ke tanah terciptalah Gunung Katong[3]; yang kedua tanah jatuh menciptakan Gunung Wilis;......….(Munib, NB, 2011).
Dari kutipan di atas, diketahui bahwa sekitar abad 16-17 nama “Wilis” telah digunakan. Gunung Wilis merupakan runtuhan kedua setelah Gunung Katong (Lawu) dari rentetan guguran Sang Hyang Mahameru yang dipindah dari india ke tanah Jawa. Jadi, sebagai salah satu bagian dari Sang Hyang Mahameru maka Gunung Wilis adalah gunung suci bagi umat Hindu. Kesucian tersebut dapat pula dilihat dari ditemukannya bangunan suci berupa reruntuhan bangunan suci di lereng-lerengnya.

Goa Selomangleng Kediri, Candi Ngetos, Omben Jago, Candi Penampihan, Candi Pandupragulopati, Situs Condrogeni dan beberapa pusat kerajaan yang tumbuh kembang di sekitar Gunung Wilis. Sebutlah, Kerajaan Wengker di nagara Lwa, Kerajaan Wurawan di nagara Glang-Glang berkembang di bagian barat Gunung Wilis. Sedangkan Kerajaan Panjalu di nagara Daha berkembang di timur Gunung Wilis.

Rujukan:

Munib, NB. 2011. Dinamika Kekuasaan Raja Jayakatyeng di Kerajaan Glang-Glang Tahun 1170-1215 Çaka: Tinjauan Geopolitik. Skripsi. Malang: FIS UM
Pigeaud, Th G T. 1924. De Tantu Panggelaran. Leiden: s’Gravenhage, Nederl. Boek en Steendrukkerij voorheen H.L. Smits.



[1] Terdapat pada penutup kitab “tlas (s)inurat sang hyang tantu panglaran ring karangkabhujanggan kutritusan, dina u(manis) bu(dha) madangsya, titi sasi kasa, rah 7, tengek 5, rsi pandawa buta tunggal(1557)”(Pigeaud, 1924)
[2] Nama kuno wilayah India
[3] Nama kuno Gunung Lawu

Jumat, 03 Februari 2012

Prasasti Tangkilan



Mbah Gilang atau Prasasti Tangkilan (30 Januari 2012)
Oleh: Novi BMW
  • Nama : Prasasti Tangkilan, Prasasti Padangan, Mbah Gilang 
  • Alamat : Dukuh Tangkilan, Desa Padangan, Kec. Kayen Kidul, Kab. Kediri 
  • Angka Tahun : 1052 Çaka/1130 Masehi (Wibowo, 2001) 
  • Nama Raja : Çri Mahārāja Çri Bāmeçwara Sakalabuaņatuşţikāraņa Sarwwāniwāryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa

Menurut penuturan Mbah Tukini Rembes (60-an), dahulu prasasti ini ditemukan oleh Kakeknya yang bernama Mbah Sirokarso Jaimin (alm) pada masa Belanda. Suami dari Mbah Gemi (almh) tersebut menemukan prasasti tersebut tidak sengaja, sewaktu menggali tanah di areal kebun yang terkenal wingit (angker) kala itu.

Informasi Mbah Tukini Rembes bahwa penemuan prasati ini sejak masa pendudukan Belanda tidaklah salah. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya laporan J. Knebel (1908) tentang Situs batu bersurat di Dukuh Tangkilan, Desa Pandangan, Distrik Papar, Afdeeling&Residentie Kediri.Yang mau tau isi laporannya, silahkan baca dibawah ini ni....

(Distrikt Papar)
Desa Pandangan
Doekoeh Tangkilan

In het midden van de tegalan troffen we aan een zoogenaamde beschreven steen, plat neerliggend in het zand.
Geen enkele letter is er meer op te onderscheiden.
De steen staat op een lotuskussen; het kussen ligt op eene steenplaat, en de steenplaat op een inzetstuk.
Hoog 1.64 M; breed van boven 0.94 M, beneden 0.79. Lotuskussen, plaat en pen, hoog 0.58 M.
Dikte van den steen 0.36 M.
Aan dezen steen wordt op geenerlie wijze eer bewezen.

Sekarang keberadaan prasasti telah dipindahkan dari lokasi asal dan bergeser sekitar 20 meter kea rah barat daya. Selain prasasti ditemukan juga berbagai arca dewa, dan sebuah jobong sumur kuno. Menurut Mbah Tukini Rembes dahulu ada beberapa arca yang dicuri. Arca-arca tersebut berupa arca ketek (monyet), manuk (burung), arca lanang, dan arca wedok. Oleh karenanya semua temuan Cagar Budaya tersebut telah dibuatkan pagar keliling dari semen. Kecuali jobong sumur yang hingga sekarang masih digunakan untuk sumuran, dan terkenal dengan Sumur Mbah Gilang. Dahulu areal temuan prasasti berupa tegalan, namun kini lokasinya diapit perumahan penduduk.

Lain lagi cerita Sumur Mbah Gilang, dahulu di sumur tersebut konon pernah ada orang yang  melihat ular berjengger. Kemudian masyarakat mencoba untuk menguruk sumur Mbah Gilang dengan pasir. Namun berapapun banyaknya pasir yang ditumpahkan, tetap tidak mampu menguruk sumur ini.
Sumur Mbah Gilang (30 Januari 2012)

Punden Mbah Gilang masih sering dikunjungi oleh para peziarah. Sering pula di lokasi punden mbah Gilang ini dipentaskan acara-acara tradisional, seperti Jaranan, Tayub, Ketoprak, Reog dan Wayang. Setiap bulan Suro malam Jumat legi, Mbah Gilang (Prasasti Tangkilan) dimandikan dengan air kembang. Pantangan bagi oernag-orang yang berkunjung adalah memakai batik bercorak lurik, parang rusak dan juga pakaian berwarna hijau.

Walaupun ukiran aksara pada batu bertulis  Tangkilan sebagian masih dapat di baca, namun hingga kini masih belum diterbitkan bacaannya. Penempatannya yang tidak dilindungi bangunan beratap (cungkup) menjadikan warisan leluhur ini semakin merana. Jika dibiarkan terus demikian dikhawatirkan aksara-aksara dalam prasasti semakin aus tergerus air hujan dan terik matahari.

Rujukan: 
  • Knebel, J. 1910. Beschrijving van de Hindoe-oudheden in de Afdeling Kediri (Residentie Kediri). Dalam Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-indie voor Oudheidkundig Onderzoek of Java en Madura 1908. S-Gravenhage; Martinus Nijhoff & Batavia; Albrecht & Co. 
  • Wibowo, B.S. 2001. Prasasti-Prasasti di Jawa Timur. Mojokerto: BP3 Trowulan

Kamis, 02 Februari 2012

PENGARUH KEBERADAAN GUNUNG KAMPUT DI BUMI KADIRI


Oleh: Novi BMW

            Gunung Kamput merupakan nama kuno dari gunung Kelut yang terletak di perbatasan antara Kab. Kediri di sebelah Barat, Kab. Malang di sebelah Timur dan Kab. Blitar di sebelah Selatan Propinsi Jawa Timur. Namun danau kawah secara administrasi ikut daerah Kabupaten Kediri. Daerah ini sangatlah erat hubungan sejarahnya dengan Sungai Brantas dan Gunung Kamput sebagai sumber kesuburan, kemakmuran, berkah alam dan sekaligus musibah. Apabila keadaan alam di sekitar Kediri ini diselidiki sepanjang masa dapat ditentukan, bahwa daerah antara Gunung Wilis dan Gunung Kamput ini selalu diganggu oleh bah dari sungai Brantas dan bukit (gunung) Kelut yang mengakibatkan bencana alam besar. 
            Letusan Gunung Kamput memiliki pengaruh besar terhadap peradaban di sepanjang lembah sungai Brantas, terutama di bumi Kadiri dan sekitar. Di dataran rendah Kediri pernah berdiri kerajaan yang terkenal, yaitu Kerajaan Panjalu dengan ibu kota kerajaannya di Dahanapura (Prasasti Pamwatan 1042 M, Pararaton, Negararkertagama, Babad kadhiri), Katangkatang (Prasasti Kamulan: 1116C/1194M), dan Mamenang (babad Kadhiri). Lokasinya yang berada di pertengahan aliran Sungai Brantas dan di pusat daerah Jawa bagian Timur sangatlah strategis untuk mempengaruhi kondisi lingkungan sekitarnya. Hal ini tidaklah mengherankan jika letusannya yang dahsyat sering di sebutkan dalam beberapa tulisan pujangga-pujangga kerajaan di daerah Jawa bagian Timur, contoh dalam Negarakretagama dan Pararaton. Setelah karajaan Panjalu runtuh, daerah subur tersebut tetap digunakan untuk aktifitas penting umat Hindu-Budha di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan penggantinya, seperti kerajaan Singhasari, Kerajaan Majapahit sampai akhir pengaruh Kerajaan Hindhu-Budha di Jawa. 
            Masa kerajaan Panjalu/Kadiri sangatlah terkenal dengan kesuburan susastra Jawa kuna. Pada masa ini banyak terlahir karya-karya susastra besar, seperti kitab Smaradahana gubahan mpu Dharmaja, Bharatayuddha gubahan mpu Sedah(1157M) dan diteruskan mpu Panuluh yang juga membuat kitab Hariwangca dan Gatotkacacraya. Ada beberapa lagi yang terkenal : Lubdhaka dan Wrtasancaya buah tangan mpu Tanakung, Kresnayana karangan mpu Triguna dan Sumanasantaka karangan mpu Monaguna (Soekmono, 1973: 58). Kebesaran Raja Panjalu/Kediri diabadikan dalam beberapa karya sastra yang dikenal sampai mancanegara, bahkan sampai sekarang pun masih dikenal, semisal Jongko Joyoboyo yang dikenal sebagai ramalan dari Raja Joyoboyo (1130-1160M) dan cerita-cerita Panji (Kamecwara).
            Dalam bukunya Wirjosuparto (tanpa tahun) yang berjudul  Apa Sebabnya Kediri Dan Daerah Sekitarnya Tampil Kemuka Dalam Sejarah dikatakan bahwa, jika semakin besar tantangan yang dihadapi sebuah bangsa semakin besar kemungkinan-kemungkinan yang mendorong bangsa tersebut lahir sebagai bangsa yang berkebudayaan. Hal ini didasari dari teori Arnold J. Toynbee yaitu tantangan dan tanggapan. Namun pengaruh dari Gunung Kamput hanya disinggung sekilas saja oleh Wirjosuparto, bahkan lebih kepada cerita-cerita mitologinya. Begitu pula dengan buku Sejarah Nasional Indonesia jilid II, walaupun diterangkan sejarah kerajaan Panjalu namun pengaruh keberadaan Gunung Kamput tidak diulas. Kajian mengenai pengaruh alam daerah Kadiri sering dibahas, namun kajian-kajian yang selama ini dibahas lebih menonjolkan peran Sungai Brantas terhadap keberadaan peradaban besar di Kadiri. Oleh karena itu perlu penyeimbang dengan mengangkat Gunung Kamput dalam kajian pengaruhnya terhadap keberadaan pusat peradaban di Bumi Kadiri.
            Dari beberapa penemuan arkeologis di akhir abad ke-20 sampai tahun 2008, bukti peradaban besar masa Kerajaan Kadiri banyak ditemukan di bawah permukaan tanah rata-rata, seperti Situs Kepung, Situs Dorok, Situs Tondowongso dan Situs Gurah. Lapisan-lapisan tanah yang menimbun situs-situs tersebut diidentifikasi berasal dari material-material akibat letusan Gunung Kamput. Dari penemuan tersebut sangatlah menarik perhatian untuk membahas seberapa besar pengaruh keberadaan Gunung Kamput terhadap Kerajaan Panjalu di Kadiri.

 1. Keadaan Alam Sekitar Gunung Kamput
            Gunung Kamput adalah salah satu gunungapi di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, yang masih aktif. Gunung Kamput bertipe Strato andesit dengan danau kawah dan termasuk gunung vulkanik yang sulit diprediksi. Gunung ini memiliki ketinggian 1731 m. Puncak kawah gunung ini, terletak di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Dengan adanya danau kawah di puncaknya, merupakan senjata yang sangat membahayakan bagi masyarakat di sekitar jalur aliran lahar gunung Kamput. Gunung ini berada di perbatasan antara Kabupaten Kediri, Malang dan Kabupaten Blitar, atau sekitar 27 km sebelah timur Kota Kediri. 
Gunung Kelud, di ambil dari atas Kali Lahar Bladak (10 Mei 2008)
            Di sebelah timur Gunung Kamput berbatasan dengan Gunung Kawi dan Butak. Sebelah Utara berjajar Gunung Anjasmoro, Welirang dan Arjuna. Sebelah selatan dataran rendah Blitar dan disambung pegunungan kapur selatan. Untuk sebelah Barat Gunung Kelut menjulang tinggi gunung Wilis, yang dibelah oleh sungai Brantas dengan lembahnya yang sangat subur, lembah inilah yang sekarang menjadi daerah Kediri. Sungai Brantas berhulu di dataran tinggi Malang dan hilirnya di selat Madura.
            Menurut sejarah geologinya, seluruh dataran rendah lembah Brantas dari Blitar hingga Mojokerto dulunya mewujudkan suatu teluk lautan yang menjorok cukup dalam dengan melengkung ke tubuh Jawa Timur. Kemudian teluk ini terisi dengan elfata gunung-gunung api, terutama Kelud yang ledakan hebatnya terakhir terjadi pada tahun 1919 dan 1951. Sebagian elfatanya dibawa oleh angin, sebagian lagi oleh air sungai Brantas, sehingga melalui dua proses ini terbentuklah dataran rendah Kediri. Di sekitar kota Kertosono elfata lebih terdiri atas kerikil dan pasir kasar. Sementara itu hujan-hujan lebat di lereng selatan gunung Kawi mengadakan erosi yang hebat dari masa-kemasa sehingga air sungai brantas mengangkuti tanah lixivium merah untuk diendapkan sehabis banjir di daerah Kediri. Juga dari daerah dataran rendah ini datang endapan tanah kapur yang berwarna kelabu berasal dari anak-anak sungai Brantas yang bermata air di pegunungan Kidul daerah Trenggalek, ditambah lagi dengan endapan tanah berwarna coklat yang berasal dari gunung Wilis. Dengan demikian pada pedolog dapat menerangkan bagaimana terjadinya tipe tanah di derah Kediri yang baik untuk pertanian padi dengan unsur-unsur berupa andesit, veldspat dan augit(dari elfata kelud) yang bercampur dengan bagian-bagian halus dari tanah merah lixivium (lumpur tanah napal yaitu margalit yang mengandung kwarsa, liat dan kapur) (Daldjoeni, 1992:89).
            Letusan Gunung Kamput mempengaruhi perkembangan delta di muara Sungai Brantas, semakin banyak material vulkanik yang dibawa semakin cepat pembentukan delta di muaranya. Gunung ini meletus secara periodik antara 15-30 tahun sekali dan setiap letusan mengeluarkan bahan-bahan vulkanik rata-rata 100 juta meter kubik. Dalam buku-buku sejarah (Negarakretagama pupuh I.4; PJ. Veth “Java”III hal 751) letusan-letusan Gunung Kelud yang disertai segala bencananya telah terjadi pada tahun-tahun: 1344, 1811, 1828, 1835, 1848, 1868, 1875. Dalam kitab Pararaton (Tidak sepenuhnya ini dapat dipercaya) disebutkan kejadian-kejadian yang dapat dihubungkan dengan kegiatan Gunungapi yang terjadi pada tahun-tahun: 1311, 1334, 1389, 1421, 1440, 1462,1481. Letusan-letusan Gunung Kelud yang banyak ditulis dalam buku-buku Biologi terjadi pada tahun-tahun: 1873,1901,1919,1951, 1966 (Mustopo, 2002: 14).

2. Pengaruh Gunung Kamput terhadap peradaban kerajaan masa Hindu-Budha di Bumi Kadiri
Dalam kitab Pararaton disebutkan kejadian-kejadian yang dapat dihubungkan dengan kegiatan gunung api yang terjadi pada tahun-tahun: 1311, 1334, 1389, 1421, 1440, 1462,1481. Pada letusan tahun 1334 disebut tentang Peristiwa Guntur Pabanyu Pindah, lalu apanya yang berhubungan dengan letusan Gunung Kamput? Peristiwa ini dalam Negarakertagama diberitakan dengan jelas saat dihubungkan dengan tanda-tanda kelahiran Hayam Wuruk. Dalam Negarakertagama Pupuh 1 ayat 4 disebutkan:
“Ring Saka rttu carena rakwa ri wijil / nrpati tlas inastwaken/ prabhu,an/garbbhecwara natha ring kawuripan/ wihaganiran amanusadbhuta, lindun bhumi ktug hudan hawu gerh kilat awltan ing nabasthala, Guntur ttang himawan/ ri Kamput ananang kujana kuhaka mati tanpagap”(Pigeaud, 1960:3)
Artinya:
“Tahun saka masa memanah surya (1256 C/ 1334 M) beliau lahir untuk jadi narpati selama dalam kandungan di kahuripan, telah tampak tanda keluhuran Gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar, Gunung Kamput, gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari Negara”(Muljana, 2006:338).

Tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa dan diperkirakan memiliki kekuatan letusan atau Volcanic Explosivity Index (VEI): 5. Kira-kira setara letusan Pinnatubo tahun 1991(www.kediri.go.id, diakses 04 September 2008). Pinatubo merupakan gunung berapi di Filipina, letusan tahun 1991 mengakibatkan menghilangnya puncak gunung yang asalnya mengerucut berubah menjadi danau kawah yang lebar. Bila letusan Gunung Kamput tahun 1586 memiliki kekuatan letusan seperti Pinnatubo, maka pasti terjadi letusan dahsyat yang mengangkat puncak gunung Kamput serta mengakibatkan daerah Kediri dan Blitar porakporanda. 

Dilihat dari foto udara, kawah gunung Kelut dahulu lebih memiliki arah laju lahar besar ke kali lahar Gedog, yang memiliki rute, kawah-lereng utara G. Oemboh-  desa Bendorejo-Sumberejo dan Sumberdadi-mengancam daerah Keras. Dan arah lahar Koetungan rute, Kawah- Puncu-Jengkol Plosoklaten-Gurah-Gampengrejo dan Pagu. Adapun kali lahar Mangli yang menuju daerah Kepung lewat sungai Konto melalui daerah Kediri utara.
Sekarang rute aliran lahar terbesar daerah Blitar antara lain Kali Lahar diatas desa Tjemarasewu sungai ini bertjabang menjadi kali lahar Blitar(menuju kota Blitar) dan kali lahar Temas/Bladak. Di Desa Beketjek kali ini berjabang dua lagi yaitu kali lahar Blitar yang menuju kota Blitar dan kali Ngaglik dan kali tjerme, di dekat persimpangan kali lahar blitar dan kali tjerme, di dekat persimpangan kali lahar blitar dibuat sebuah bom dam besar yang di namakan dam Bladak (koleksi arsip ekonomi uang dan pembangunan no. 573).  Lahar Kali Putih melewati daerah Talun dan bermuara di Sungai Brantas, begitu juga Lahar kali Lekso melewati daerah Wlingi dan berakhir di sungai Brantas. 
Letusan Gunung Kamput tahun 1919,1951,1966,dan 1990 merupakan letusan besar yang menimbulkan kerusakan yang diakibatkan material letusan primer maupun yang di akibatkan terjangan air Lahar. Namun dibanding dengan akibat letusan sebelum tahun 1919 dan jauh masa kerajaan Hindu-Budha dahulu pastinya memiliki kekuatan aliran lahar yang sangat kuat melebihi tahun 1919 ke atas. 
Hal tersebut disebabkan telah dilakukannya upaya pengendalian gunung kelut yang dimulai pada tahun 1907-1928 masa kolonial Belanda dan setelah kemerdekaan, yaitu upaya pengurangan volume air danau kawah gunung Kamput dengan membuat terowongan pembuangan air keluar kawah.
Bukti bahwa arah aliran lahar gunung Kamput dahulu ke arah daerah Kediri  dan menyembunyikan bukti-bukti peradaban masa Kerajaan Hindhu Budha adalah dengan di ketemukan situs situs sejarah yang terpendam dalam material vulkanis gunung Kamput. Situs situs tersebut antara lain:
a.       Situs Candi Kepung, terletak di dukuh Jatimulyo, Desa Krenceng Kab. Kediri. Situs ini berupa Patirtaan yang tertimbun tanah hasil letusan gunung Kamput sedalam kurang lebih 7 meter. Situs ini terkena aliran lahar Mangli dari Sungai Konto yang memecah menjadi Sungai Harinjing/Srinjing.
b.      Situs Candi Dorok, di Desa Manggis Kec. Puncu Kab. Kediri. Situs ini tertimbun lebih dari 3 Meter. Situs ini jauh dari sungai, mungkin dahulu di sekitar situs terdapat sungai tapi terkena material vulkanik langsung dari letusan Gunung Kamput dan akhirnya mati.
Candi Dorok
c.       Situs Candi Kali Pesu, di desa Pagu Kec. Wates tertimbun lebih dari 3 Meter. Situs ini di pinggir Kali pesu, yang memiliki hulu di lereng barat gunung Kelut, memiliki akses lahar dari lahar Gedog. 
Situs Kali Pesu (03 November 2011)
d.      Situs Tondo Wongso, berupa areal kompleks percandian, di desa Gayam Kec. Gurah, tertimbun material lahar lebih dari 4 meter. Situs ini dapat akses lahar dari kali lahar Ngobo dan kali lahar Petungan dari daerah Puncu turun ke plosoklaten dan akhirnya tiba di Gurah.
Situs Tondowongso
e.       Situs Baruklinting, di desa Wonojoyo Kec. Gurah Kab. Kediri. Berupa candi dan kubur tempayan, Yoni dan pondasi candi tertimbun sekitar 2 meter dari permukaan tanah untuk Candi dan lebih dari 3 meter untuk kubur tempayan. Sama halnya dengan situs Kali Pesu situs Baruklinting ini dapat akses lahar dari kali lahar Gedog.
f.       Situs Sumber Cangkring, di desa Sumbercangkring kec. Gurah, Berupa reruntuhan candi sekitar 1 meter dalam tanah. Situs ini di dekat Sungai lahar petungan berhulu di daerah Puncu, lereng barat gunung Kelut.
Candi Sumber Cangkring (11 Pebruari 2008)
g.      Situs Semen. Reruntuhan pondasi bangunan, di desa Semen kec. Gampengrejo Kab. Kediri. Tertimbun 1 meter.  Situs ini ada di sekitar hilir kali lahar petungan dan dekat dengan kawasan Memenang yang di identifikasi sebagai bekas ibu Kota kerajaan Daha. Daerah Kec. Pagu dan Gampengrejo merupakan daerah yang memiliki simpanan situs arkeologis yang sangat kaya, masa Kadiri, di perkirakan lokasi ibu kota Dahanapura berada di daerah ini.
h.      Situs Gurah yang di temukan pada tahun  1957 di desa Gurah kec. Gurah Kab. Kediri. Hasil penemuan situs ini telah ditulis oleh R. Soekmono dalam bukunya yang berjudul Gurah, The Link Between The Centeral And The East-Javanese Arts.
Dari penemuan situs-situs sejarah di atas dapat kita ketahui bahwa dahulu pernah ada peradaban besar dan benarlah bahwa dahulu Bumi Kadiri pernah dijadikan pusat peradaban yang besar oleh manusia-manusia berkebudayaan tinggi. 
            Gunung Kamput merupakan Gunungapi aktif yang memiliki peran sangat besar dengan kombinasi serasi bersama Sungai Brantas. Endapan-endapan material vulkanis menyebabkan kesuburan tanah di sepanjang aliran sungai Brantas dari lembah Blitar sampai pembentukan delta di hilir Sungai Brantas. Hal ini merupakan salah satu alasan pemilihan daerah Kadiri sebagai pusat peradaban masa Hindhu Budha dahulu. 
            Selain kesuburan tanah di antara lembah sungai Brantas-Gunung Kamput, kedua Keajaiban alam tersebut juga membawa bencana yang cukup besar. Banjir dari sungai Brantas tiap tahun dan letusan gunung kamput yang dahsyat, membuat masyarakat di Bumi Kadiri berjuang tiap tahun untuk bersahabat dengan alam lingkungannya. Hal ini sesuai dengan teori yang di kemukakan oleh Arnold J. Toynbee, yaitu tantangan dan tanggapan/jawaban. Sungai Brantas dengan banjir bandang setiap tahun dan gunung kamput selain letusan primernya, juga terjangan lahar  yang sering menyapu daerah Blitar dan Kadiri, merupakan tantangan bagi masyarakat di bumi Kadiri. Benarlah istilah yang sering diucapkan oleh masyarakat di Bumi Kadiri perihal letusan gunung Kamput “Blitar dadi Latar, Tulungagung dadi kedung, Kediri dadi kali”.
            Semakin besar tantangan yang dihadapi sebuah bangsa semakin besar kemungkinan-kemungkinan yang mendorong bangsa tersebut lahir sebagai bangsa yang berkebudayaan. Dengan ini Toynbee telah meyakinkan, bahwa pertumbuhan sesuatu kebudayaan itu tidak semata-mata tergantung kepada keadaan alam di sekitar tempat kediaman sesuatu bangsa dan tergantung kepada jenis bangsa (race) yang menciptakannya, melainkan tergantung kepada tangan yang di tujukan sesama bangsa tersebut. Ini tidak berarti, bahwa Toynbee mengabaikan sama sekali faktor keadaan alam dan jenis bangsa, tetapi kedua faktor itu harus dilihat dari sudut baru, ialah sudut pertentangan tantangan dan jawaban (Wirjosuparto, tanpa tahun: 9).
            Selain teori tersebut model pendekatan Ekologi budaya yang dikemukakan Julian H. Steward bisa juga untuk mengkaji masalah ini. Dimana kebudayaan dengan lingkungan alam memiliki hubungan sebab akibat yang saling mempengaruhi suatu Bangsa dengan inti budayanya. Yang dimaksud inti budaya adalah beberapa aspek kehidupan pembentuk bangsa. Sebagai contoh aspek Religi, aspek Mata pencaharian (ekonomi), aspek seni, aspek tekhnologi, Sistem pemerintahan, dan aspek-aspek kehidupan masyarakat lainnya. 
            Masyarakat pada masa kerajaan Panjalu dapat berhubungan baik bersama lingkungan alam di Bumi Kadiri, dengan cara beradaptasi dan mengolah sumberdaya alam di Bumi Kadiri. Keberadaan gunung Kamput telah mempengaruhi beberapa aspek kehidupan(inti budaya) sebagai contoh bukti adalah dari aspek religi dan tekhnologi, pembangunan Candi Palah (Penataran) sebagai tempat pemujaan terhadap Dewa Gunung (G. Kamput) sekaligus bukti telah ditemukannya teknologi pembangunan tempat keagamaan dan kenegaraan. Selain itu terdapatnya keseimbangan unsur Pancamahabuta yaitu unsur tanah, air (S. Brantas dan anak Sungainya), api(G.  api Kamput), dan udara sangatlah cocok Bumi Kadiri dijadikan pusat peradaban masyarakat Hindu-Budha. Dari aspek Mata Pencaharian (ekonomi) masyarakat memanfaatkan tanah yang subur sebagai lahan pertanian, terutama padi sebagai komoditi eksport. 
            Aspek Seni, walaupun masih banyak misteri yang belum terungkap namun masa Kadiri dari seni bangunan memiliki corak yang Khas, hal ini disebutkan oleh R. Soekmono(1998) dalam bukunya yang berjudul Gurah, The Link Between The Centeral And The East-Javanese Arts bahwa penemuan situs candi di daerah Gurah tahun 1957 merupakan situs peninggalan masa Kerajaan Panjalu yang seni bangunnya merupakan peralihan antara langam seni masa pusat kerajaan Hindu-Budha di Jawa bagian Tengah dengan pusat kerajaan Hindu-Budha di Jawa bagian Timur. Munculnya karya tulis yang tersohor merupakan bukti keberhasilan Kerajaan Panjalu berhasil berhubungan baik dengan  keadaan alam sehingga memungkinkan rakawi-rakawi meluangkan waktu untuk menulis karya sastra. Seni Susastra pada masa kerajaan Panjalu sangatlah subur. Bahkan setelah kerajaan ini runtuh, tokoh-tokoh kerajaan pun masih dikenang dan termasyur namanya sampai ke mancanegara. Contoh konkrit adalah cerita panji dengan latar belakang seputar kerajaan Panjalu dan Jenggala. Pada masa ini banyak terlahir karya-karya susastra besar, seperti kitab Smaradahana gubahan mpu Dharmaja, Bharatayuddha gubahan mpu Sedah (1157M) dan diteruskan mpu Panuluh yang juga membuat kitab Hariwangca dan Gatotkacacraya. Ada beberapa lagi yang terkenal : Lubdhaka dan Wrtasancaya buah tangan mpu Tanakung, Kresnayana karangan mpu Triguna dan Sumanasantaka karangan mpu Monaguna (Soekmono, 1973: 58).
            Dari aspek pemerintahan dan kemasyarakatan dimasa kerajaan Panjalu adalah di temukannya sistem pemerintahan yang tersruktur dari Raja sampai para penguasa Dawuhan dan Thani. Sistem masyarakat yang agraris diberitakan dalam berbagai prasasti sebagai contoh adalah Prasasti Pandelegan I (1038C/1117M) ), prasasti Panumbangan (1042C/1120M), prasasti Talan (1058C/1136M, Prasasti Lawadan(1127C/1205M) dan beberapa prasasti pada masa Panjalu kebanyakan memuat penetapan daerah sima terhadap dawuhan-dawuhan yang mengatur sawah dan kehidupan pertaniannya.


Kesimpulan
            Keadaan alam Bumi Kadiri sangatlah subur dan cocok untuk pendirian sebuah pusat peradaban, karena memenuhi aspek cosmologi masyarakat pada masa kerajaan Panjalu yang menyeimbangankan lima unsur kehidupan. Unsur air diwakili oleh keberadaan Sungai Brantas dan anak-anak sungainya, unsur api yang diwakili oleh keberadaan gunung Kamput, unsur udara yang tidak terlalu kering dan basah, unsur tanah yang subur dan akhirnya menimbulkan ruh dalam kehidupan masyarakat pendukung  pada Kerajaan Panjalu di Bumi Kadiri.
            Perkembangan Kerajaan Panjalu di Bumi Kadiri merupakan hasil dari hubungan timbal-balik antara masyarakat pendukung kebudayaan Panjalu dengan alam lingkungan. Kerajaan Panjalu yang mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, menjadikan aspek agraris sangat penting bagi eksistensi Kerajaan. Oleh karena itu banyak prasasti-prasasti yang dikeluarkan Raja memuat penetapan sima untuk kepentingan religi dan sekaligus perawatan dawuhan dan lahan pertanian. Pengaruh keberadaan Gunung Kamput terhadap Kerajaan Panjalu di Bumi Kadiri adalah respons positif dan kretiaf masyarakat pendukung kebudayaan Panjalu. Dimana gunung Kamput yang memiliki potensi bahaya besar akibat letusannya, namun oleh masyarakat di Bumi Kadiri ditanggapi dengan cara memanfaatkan alam yang subur dengan melakukan aktifitas pertanian. Tentang letusan yang membahayakan masyarakat dan pemerintahan menaggulanginya dengan pembuatan beberapa Candi pemujaan terhadap Dewa Gunung, salah satu contohnya adalah Candi Palah (Penataran). Selain Gunung Kamput mempengaruhi dan menguatkan aspek religi masyarakat Hindu-Budha pada masa Kerajaan Panjalu, juga mempengaruhi aspek lain seperti aspek ekonomi, tekhnologi, seni dan juga aspek pemerintahan. 
              Kerajaan Panjalu yang didirikan pada masa Raja Airlangga akhirnya runtuh karena serangan Ken Arok dari Kerajaan Tumapel(1222M) dan lambat laun bukti-bukti peninggalan kerajaan Panjalu tersimpan dibawah lapisan-lapisan tanah vulkanis akibat letusan Gunung Kamput secara periodik. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya beberapa situs peninggalan pada masa kerajaan Panjalu seperti Candi Gurah, situs Candi Tondowongso, dan beberapa situs dari masa Panjalu sampai kerajaan Majapahit yang tertimbun material-material vulkanis dari letusan gunung Kamput secara periodik. 

Daftar Rujukan:

A.    Sumber Arsip
Laporan Penindjauan Menteri Dalam Negeri, Basoeki Rachmat Tentang Bentjana Alam Gunung Kelud, tanggal 2 Mei 1966 ( Koleksi arsip Ekonomi dan Pembangunan No. 573)

B.     Sumber Buku
Daldjoeni. 1992. Geografi Kesejarahan II Indonesia. Bandung: Alumni
Muljana, Slamet. 2006. Tafsir Sejarah Negara Kertagama. Yogyakarta: LKiS
Mustopo, Habib. 2002. Kali Brantas Kilas Balik Sejarah Pengendaliannya. Malang: Malang’s Cultural Haritage Society
Pigeaud. 1960. The Negarakertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D. Leyden: …
Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Soekmono. 1998. “Gurah, The Link Between The Central And The East-Javanese Arts”, Bulletin of the Archaeological Institute of the Republic of Indonesia. Jakarta: Berita Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.
Wirjosuparto, Sutjipto. Tanpa Tahun. Apa Sebabnya Kediri Dan Daerah Sekitarnya Tampil Kemuka Dalam Sejarah. Djakarta: UI Press)

C.    Sumber Internet
Dinas Pemasaran Kabupaten Kediri. 2007. Sejarah Gunung Kelut . (online) (www.kediri.go.id, diakses 04 September 2008)

Rabu, 01 Februari 2012

Situs Kali Pesu

Oleh: Novi BMW

Penggalian tanah pekarangan milik Pak Sutomo (46) di Dukuh Krebet, Desa Pagu, Kec. Wates, Kab. Kediri pada tahun ’90-an untuk pembuatan sumur, telah memunculkan beberapa bukti-bukti adanya temuan arkeologis. Para pekerja penggalian menemukan struktur batu bata kuno, sebuah Yoni, arca tokoh dewa, arca Rsi Agastya dan tidak jauh dari situ ditemukan pula bokor dari batu. Namun tidak satupun masyarakat yang melaporkan penemuan tersebut kepada pihak berwenang. Alih-alih bokor batu yang di temukan sekarang telah dibawa oleh kolektor barang antik dari Bali. Untungnya arca tokoh dewa, arca Agastya dan sebuah Yoni tidak di perbolehkan untuk di bawa oleh Bapak Sutomo.
Temuan di Depan Rumah Pak Sutomo

Lokasi temuan, yaitu di halaman belakang rumah Bapak Sutomo, berbatasan langsung dengan sungai desa yang disebut Kali Pesu. Dahulu dari belakang rumah terdapat struktur batu bata kuno yang memanjang melintasi sungai, semacam tembok. Namun struktur tersebut telah di bongkar dan batu bata yang berukuran besar iru di ambil oleh warga untuk keperluan masing-masing. Setelah dilakukan penelusuran disepanjang aliran sungai ke arah timur, masih banyak ditemukan temuan-temuan arkeologis lainnya. Pada dinding sungai (sekitar 30 m rumah Pak Sutomo) masih dapat dilihat dua buah batu andesit berupa saluran air terbuka (semacam bis kuno).

Di belakang rumah Bapak Sudomo (mantan Kepala Desa Pagu), di bagian dinding sungai terkuak dua struktur dari batu bata kuno. Sebuah struktur membentuk semacam terowongan sedangkan sebuah setruktur yang lebih ke timur merupakan reruntuhan struktur dinding pagar. Dari reruntuuhan dinding tersebut ke arah timur di temukan pula tiga buah batu gilang, berupa batu andesit berbentuk bulat dan berlubang di tengahnya.
Struktur Batu Bata Kuno membentuk Trowongan

Jika di telusur lagi ke arah timur Sungai Pesu membelok ke selatan dan di salah satu dinding sungai sebelah timur di temukan terowongan air (arung) yang telah longsor. Namun arung tersebut masih dapat di kenali karena masih terus mengeluarkan air. Dari cerita Bapak Subari (45) dahulu terowongan tersebut dapat di masuki orang dan sering dipakai untuk mencari ikan. Di atas arung tersebut sekarang dijadikan areal makam Desa Pagu sebelah timur. Di areal makam ini menurut informasi Bapak Subari, dahulu ditemukan Reco Pentung (arca Dwarapala). Namun sekarang tidak diketahui keberadaannya.

Makam Desa Pagu sebelah timur berbatasan langsung dengan Dukuh Beji, Desa Wonorejo, Kec. Wates, Kab. Kediri. Jarak 20 meter arah timur areal makam adalah persawahan yang di sebut “Complang” . di complang ini terdapat punden yang di sebut punthuk Complang. Menurut informasi Bapak Subari, dahulu ayah dan kakaknya waktu mencangkul sawah di selatan punthuk Complang menemukan banyak arca dewa-dewi dan juga batu bata kuno, kemudian arca-arca tersebut di kumpulkan di bawah pohon besar di atas puntuhuk Complang. Namun karena sering di buat ritual penganut kepercayaan, maka semua arca tersebut telah dirusak dan di bawa ke salah satu pemuka agama di Desa Pagu, pasca peristiwa ’65.

Punden Complang dahulu merupakan sumber mata air yang besar, pusat sumber mata air berada di sekitar area punthuk Complang. Namun sekarang sumber mata air tersebut telah mongering karena pengelolaan tanah untuk persawahan.

Semua temuan-temuan di situs Kali Pesu akan terkubur begitu saja bila situs ini di biarkan terbengkalai, karena keterlambatan penanganan oleh pihak berwenang ataupun insan akademis. Oleh karena itu perlu diadakan tindak lanjut secepatnya demi keselamatan BCB di situs Kali Pesu, Dukuh Krebet, Desa Pagu, Kec. Wates, Kab. Kediri. Selain itu juga akan membantu dalam rekonstruksi sejarah budaya Indonesia.
Panorama Kali Pesu