Sabtu, 09 Februari 2019

BIBIRMU MASIH PERAWAN?

KETIKA USTADZ JATUH CINTA
Part 5
Oleh :
ANing Miftakhul Janah


Mentari merangkak naik menyengat bumi dengan sinarnya. Waktu Dhuha telah habis. Ustadz Zaki, Yuni dan Fara melanjutkan wisata ke Gronjong Wariti, di desa Mejono. Kabupaten kediri. Tak jauh dari wisata kebun bibit jambu.

Gronjong Wariti adalah wisata kali yang di dimodifikasi dengan spot-spot manis sehingga menarik pengunjung untuk sekedar melepas penat atau untuk berselfi ria.

“Suasananya masih asri ya Mas, nyaman banget ngadem di sini, pare dan sekitarnya memang memiliki pesona tersendiri,” kata Yuni yang duduk bersebelahan dengan Fara dan Ustadz Zaki, di kursi bambu pinggir sungai. Dirinya berada di tengah untuk memisahkan dua orang yang sedang dirajuk asmara itu.

“Makanya skripsi di selesaikan biar cepet-ceper bisa pulang, “ jawab Ustadz Zaki.

“Biar cepet pulang apa biar bisa nemenin mas Zaki sama mbak Fara ketemuan lagi,” goda Yuni dengan tertawa.

“hmm, nggak lah masak kencan ngajak adek terus” jawab lelaki berkulit putih itu.

“Ya udah, kalo gitu aku naik perahu dulu, kayak nya asik tuh, kalian nggak usah ikut.”

Perahu kayu juga menjadi daya tarik di wisata itu. Pengunjung dimanjakan dengan duduk diatas perahu, kemudian menyusuri perairan yang cukup luas dan panjang dengan suasana yang asri karena pepohonan yang rindang turut mengayomi.

“Jangan ditinggal berdua dong Yun, menghindari hal-hal yang diinginkan,” jawab Ustadz dengan tertawa.

“Diinginkan?” sahut Yuni. Dan tawa pun pecah. Yuni menyadari walau abangnya Ustadz tapi juga manusia biasa yang mempunyai naluri dan nafsu, ketika di tinggal berdua dengan orang yang dikasihi, setan bisa menjadi pihak ketiga yang membisik untuk berbuat maksiat.

Faris datang menjemput kakaknya dengan membawa sekotak brownies yang dibuat oleh Fara. Setelah salim dengan Zaki, dan berkenalan dengan Yuni, adik laki-laki itu ikut duduk di bawah pohon bambu yang menyejukkan itu.

“Monggo mas, mbak Yuni browniesnya. Ini buatan mbak Fara Lo, semalam lembur tuh bikin untuk ... “

“Bikin untuk Yuni,” sahut Fara karena malu jika adiknya menyebut nama Ustadz Zaki.

“Iya deh ... “ Jawab Faris sambil tertawa.

Yuni menahan tawa karena melihat wajah Fara Memerah. Yuni dan abangnya mengambil sepotong kemudian melahapnya.

“Hem ... Enak mbak, layak jual nih, beneran,” puji Yuni.

Ustadz Zaki pun memanfaatkan momentum itu untuk membujuk Fara mencoba berwirausaha agar berhenti bekerja di pabrik rokok. Harapannya, ibunda bisa simpati dengan bidadari pujaan hati.

“Bener, enak. Fara nggak pengen buka toko kue aja?, nanti tak endorse, follower ku kan banyak. Gratis ko,” kata Ustadz Zaki sambil tersenyum.

“Pengen Ustadz, tapi nggak bisa bikin kue macem-macem. Cuma bisa bikin brownies sama Proll Tape,” jawab Fara.

“Ya dua itu aja dikembangkan, yang penting memulai dulu. Nanti kursus di Bogasari atau Paramarta Kediri biar rasanya lebih sempurna.”

“Mantul, bener tuh mbak kata Ustadz Zaki. Mulai wirausaha ya, biar nggak ngantor terus,” sahut Faris.

“Setuju. Fara ... di niati menyempurnakan hijrah, berwirausaha bisa memiliki waktu fleksibel, kalo ada acara keagamaan bisa ikut, bisa dikerjakan di rumah juga sambil ngawasin anak kalo kita sudah berumah tangga. Sekarang kita kerja sama saja, Fara yang bikin nanti di jajakan di minimarket ku, tak bantu promo juga deh,” ustadz Zaki masih berusaha membujuk pujaan hatinya.

“Yang bener itu mbak Fara biar bisa ikut kajiannya mas Zaki terus. Jadi kan sering ketemu tuh. Modus juga Babang Ustadz satu ini,” sahut Yuni penuh goda.

“Nggak Yun, niatnya bener-bener cari solusi untuk pekerjaannya Fara. Tapi kalo akhirnya bisa sering ketemu ya Alhamdulillah,” jawab Ustadz Zaki sambil tertawa.

“Tuh kan,” sahut Yuni. Dan tawa pun pecah.

Yuni pun turut membantu meyakinkan, “mau aja mbak, jarang lo mas Mas Zaki mau endorse, Dia juga ngerti bisnis, minimarketnya aja berkembang. Dimentorin bisnis calon suami kan so sweet, anggap aja berjuang bersama demi restu Ibuk.”

“Oke, aku akan mengundurkan diri,” jawab Fara dengan tersenyum.

Diskusi ringan terjadi. Ustadz Zaki banyak memberi masukan terkait Branding, kemasan, label dan juga pemasaran.

“Namanya yang unik, mudah diingat dan yang pasti menarik,” saran Ustadz Zaki.

Mereka berempat berpikir bersama. Berbagai nama muncul tapi masih belum menemukan yang menarik.
Faris semakin antusias berfikir keras hingga munculah nama, “brownies Kediri aja, selain mudah diingat, untuk mengangkat nama Kediri juga,” usul Faris.

“Betul. Brownies legend Kediri,” kata Ustadz Zaki.”

Gadis cantik itu menyetujui. Dirinya semakin mantap mengundurkan diri dan mencoba berwirausaha.
“Semangat ya,” kata Ustadz Zaki dengan penuh senyum.

Dawai asmara mengalun diantara keduanya membuat Suasana semakin indah dirasakan oleh Ustadz Zaki dan Fara. Lelaki itu bahagia ketika melihat wanita yang dikasihi tersenyum.

Matahari semakin naik. Dan kini tepat berada di tengah-tengah menandakan jam 12.00 WIB. Setelah menikmati sejuknya kali Gronjong, Ustadz Zaki mengajak semuanya untuk menunaikan Shalat Dzuhur, kemudian makan siang di Mie Djudes Pare, karena Yuni merengek-rengek ingin menikmati lezatnya mie dengan cita rasa super pedas itu. Terakhir melajukan mobilnya ke rumah. Gadis pujaan hati itu juga kembali ke rumah dengan adik laki-lakinya.

°°°
“Assalamu’alaikum,” ucap Yuni dan Ustadz Zaki bersamaan.

“Waalaikum salam, pulang juga kalian,” jawab Bu Fatimah dengan ketus.

“Buk sama mas Zaki di beliin madu mongso kesukaan ibuk, ini yang paling enak di Mejono, Madumongso Cap Madu,” kata Yuni sambil meletakkan jajanan tadisional itu di meja makan.

“Iya, terimakasih sudah ingat sama ibuk. Kalian duduk dulu,” perintah Bu Fatimah dengan nada kesal.
Kakak beradik itu bingung dan tidak mengerti dengan sikap ibunya yang tiba-tiba kesal.

“Zaki apa ini,” kata Bu Fatimah sambil menunjukkan foto Fara dan Yuni di kebun Bibit.

“Tadi ibuk nggak boleh ikut ternyata di sana kamu janjian sama Fara,” nada tinggi Bu Fatimah membuat kedua anaknya tersentak.

Ustadz Zaki terdiam dan memegang dahinya yang terasa pening. Ya Allah, ketahuan juga. Gumam Ustadz dalam hati.

“Kenapa Cuma diam, “ kata Bu Fatimah dengan nada yang semakin meninggi.
“Kalo mas Zaki jujur apa ibuk mengizinkan?”

“Diam Yun. Kamu juga salah. Tidak usah ikut bicara!.”

Bentakan Bu Fatimah tidak membuat anak gadisnya ciut. Dia terus berusaha membela kakaknya.

“Buk mbak Fara itu kurang apa sih, dia baik, lembut, cantik lagi. Menurut Yuni mereka cocok. Mengapa ibuk nggak suka?”

“Yuni, ibuk bilang diam ya diam, kamu tidak tau apa-apa, nggak usah bicara,” nada Bu Fatimah semakin meninggi.

“Tapi ... “ belum selesai Yuni bicara.

“Yun,” sahut Ustadz Zaki dengan menggelengkan kepala, memberi kode agar Yuni diam.
“Zaki minta maaf buk.”

“Hanya Maaf? Karena gadis itu kamu berani bohong. Fara juga, kemarin katanya mengerti perasaan ibuk, ternyata sekarang malah janjian sama kamu. Gadis macam apa itu.”

Mendengar Fara disalahkan hati Zaki tidak menerima. Diapun terpancing untuk angkat bicara.
“Buk Fara nggak salah. yang mohon-mohon untuk ketemu itu Zaki, awalnya dia nggak mau,” jawab Zaki dengan pelan.

“Zaki!!!”
Brraakk!!!! Tangan Bu Fatimah menggebrak meja dengan kuat. Beruntung cangkir tidak ikut mencelat.

Dada Bu Fatimah Naik turun. Darah mendidih bergerak begitu cepat hingga menjalar sampai di puncak. Abah Mahfud datang dan kaget melihat istrinya yang marah dengan emosi memuncak.

“Ada apa? Kenapa ibu marah sampai seperti itu?,”

“Dua anak mu itu Bah, sudah berani bohong sama ibuk. Katanya ke kebun bibit ternyata Zaki ketemuan dengan Fara, sakit hati ini Bah dbohongi sama anak sendiri.” jawab Bu Fatimah dengan penuh emosi.

Pak Mahfud mengeryitkan dahi. Jika Ibuk tau aku juga terlibat hatinya bisa semakin tersungkur. Gumamnya dalam hati.

“Ibuk tenang, duduk dan minum dulu biar nggak darah tinggi,” jawab pak Mahfud sambil mengucurkan air di gelas kemudian memberikan pada istrinya.

Bu Fatimah pun meminum sedikit air. Hingga perasaannya lebih tenang.

“Buk Zaki dari dulu patuh sama ibuk, kalo dia sampek berbuat tidak jujur kita jangan sepenuhnya menyalahkan anak, tapi juga perlu introspeksi mungkin kita orang tua yang terlalu ngegas, anak-anak jadi takut dan tidak terbuka.

“Abah ko jadi nyindir ibuk, yang salah itu anakmu bah, seharusnya Abah marah sama mereka.”

Bersikukuh dengan sikapnya yang merasa benar karena merasa dibohingi membuat Bu Fatimah tidak juga menyadari kesalahannya.

“Ini Abah juga marah sama Zaki dan Yuni, seharusnya pamitnya tadi jujur. Dan Abah juga nggak nyindir, kalo ibuk merasa ya seharusnya sekarang intropeksi diri tidak hanya marah-marah seperti ini.”

“Kalian semua tidak mengerti perasaan Ibuk,” jawab Bu Fatimah dengan menangis. Kemudian berlalu menuju kamar. Dibantinglah pintu yang menjadi tutup ruang tidur itu.

“Jejak digital memang kejam ya mas, kita kayak maling ketangkap basah,” celetuk Yuni.

Ustadz Zaki masih tertunduk dengan kepala pening. Sesal memenuhi hatinya karena telah melukai hati ibunda.

“Zaki Kapok Bah tidak jujur, Ibuk Sampek nangis gitu, nyalahin Fara juga. Jadi nyesel gini.”

“Ya memang harus kapok le, tadi juga seharusnya kamu diam tidak usah menjawab ibumu. Tapi ya sudah, yang penting jangan diulangi lagi. Ini juga buat pembelajaran ibukmu biar sadar nggak memaksakan kehendak pada anak. Sekarang Abah mau ke kamar nyusul ibuk biar nggak terlalu kecewa.”

°°°

Matahari tenggelam tenggelam di peraduan. Mega sedikit demi sedikit undur diri dan langit menghitam. Waktu Maghrib dan Isya' sudah lewat.

Suasana makan malam berlalu dengan sunyi dan dingin. Bu Fatimah hanya diam dan tidak mau bicara dengan kedua anaknya. Ustadz Zaki berusaha minta maaf tapi tidak diberi kesempatan.

Langit begitu cerah. Hembusan angin di taman depan rumah mengurangi kepenatan di Hati Ustadz Zaki.

“Bagaimana le dengan pertemuan tadi?,” tanya Abah Mahfud yang tiba-tiba duduk disamping putranya.

“Alhamdulillah Bah Fara mau menunggu. Dia juga mau berhenti kerja. Zaki mendorong dirinya untuk wirausaha, rencananya mau jualan brownies dan prol tape.”

“Bagus itu, untuk wanita memang baiknya wirausaha jadi Ndak terikat waktu kerja. Kamu Carikan ruko le, biar cepet berkembang, agar adiknya tidak berhenti mondok,” usul Pak Mahfud.

“Nggih Bah, itu yang Zaki pikirkan."

“Tapi kalian nggak mengikrarkan diri pacaran kan?,” tanya Abah.

“Ya nggak lah Bah, mana berani Zaki ngajak pacaran. Takut di jewer sama Abah, he he he,” jawab anak lelaki itu dengan tertawa.

Abah Mahfud pun tertawa, “bagus. Kalo Sampek kalian pacaran, telingamu di jewer beneran sama Abah. Kalian jangan sering ketemu kecuali hal yang sangat penting. wA pun juga seperlunya. Kalo ketemu ngajak adikmu, intinya harus ada orang lain. Jangan Cuma berdua.”

“Masak ketemu harus ngajak Yuni terus Bah?” tanya Ustadz Zaki.

“La dari pada ngajak Abah, apa nggak lebih enak ngajak Yuni,” jawab Abah sambil tertawa. Abah dan kedua anaknya pun bercanda dan tertawa.

°°°

Suasana dingin masih menyelimuti rumah Pak Mahfud. Istrinya hanya berdiam diri di kamar. Menyandarkan punggung di bahu ranjang. Sakit hati masih dirasakan. Abah Mahfud menemani istrinya agar tidak merasa sendiri.

“Zaki sama Yuni dimana Bah?,” tanya Bu Fatimah penuh selidik.

“Jajan cilok di depan.”

“Ibuk masih marah, mereka enak-enakan jajan cilok, bah sekarang tolong panggilkan Zaki.”

Abah Mahfud pun bergegas memanggil putranya yang sedang berada di taman.

“Akhirnya Ibuk mau bicara. Zaki minta maaf Buk,” kata Ustadz Zaki dengan berlutut dibawah ranjang dengan memegang dan mencium tangan ibuknya.

Bu Fatimah pun mengeluarkan semua amarah, kekesalan dan juga kesedihannya karena merasa dibohongi dan ditentang oleh putranya. Ustadz Zaki hanya diam dan mendengarkan.

“Sekarang apa yang harus Zaki lakukan biar ibuk nggak nangis lagi dan mau memaafkan?” tanya ustadz Zaki.

“Berjanjilah sama Ibuk, kamu akan melupakan Fara, dan tidak akan menemuinya lagi.”

Deg. Petir seperti menyambar. Teringat senyum indah Fara tadi pagi, hatinya teriris jika harus harus menyakiti gadis yang dicintai.

Bagaimana mungkin aku meninggalkan Fara sedangkan baru tadi pagi aku meyakinkan dirinya untuk menungguku. Hatiku tak tega melukai hatinya. Bahkan aku bahagia ketika melihat dia bisa tersenyum. Tapi bagaimana dengan hati Ibuk? Gumam Ustadz Zaki dalam hati. Suasana menjadi hening. Lelaki itu diam termenung.

Kamis, 07 Februari 2019

BIBIRMU MASIH PERAWAN?

KETIKA USTADZ JATUH CINTA
Part 4

Oleh : Aning Miftakhul Janah





Malam yang cerah, secerah hati Utadz Zaki. Dadanya kian bergetar, gelora cinta semakin membara karena esok hari akan bertemu sang pujaan hati.

“Maturnuwun Bah.”

“Iya. Yang penting jaga pandangan mu. Jangan sampai cintamu menjelma menjadi hawa nafsu.”

Pesan Pak Mahfud selalu diingat oleh putranya. Ayah dan anak itu memang dekat karena Abahnya selalu berusaha menjadi sahabat bagi putra-putrinya.

Cinta telah masuk dalam sanubarinya. Menyatu dengan keimanan hingga jemarinya selalu menengadah, memohon keridhoan kepada Sang Pemilik Cinta yang Hakiki. Di sepertiga malam, Qiyamulail selalu ditunaikan dan nama Farahita menjadi rintihan dalam Do'anya.

°°°
Jam menunjukkan pukul 07.30 WIB keluarga itu telah selesai sarapan. Abah Mahfud pergi mengisi acara rutin pengajian Ahad Wage di Masjid Taqwa, timur pasar pare.

“Nduk jadi ke kebun bibit?” tanya Bu Fatimah yang sedang duduk disofa ruang keluarga.

“Jadi buk, ini mau berangkat nunggu Mas Zaki, Yuni ingin menikmati pesona kota pare,” jawab  putri bungsupak Mahfud.

Qurrota A'yuni, akrab disapa dengan Yuni adalah putri bungsu pak Mahfud yang sedang menempuh pendidikan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan S1 PendidikanAgama Islam. Selain kuliah, Yuni juga mondok di pondok pesantren luhur malang.

“Ayo berangkat,” sahut Ustadz Zaki yang baru saja keluar dari kamar.

Yuni dan ibunya menoleh. Adik perempuan itu terperangah melihat penampilan kakaknya. Mengenakan celana Chino warna krem, kemeja putih sedikit ketat dengan lengan seperempat menampakkan dada bidangnya. Perut tipis dan tubuh atletis dengan tinggi 180 cm. Casual namun gagah sekali. Ustadz Zaki memang suka nge-gym.

Rambut hitam lebat yang disisir rapi menjadi mahkota wajah tampannya. Alis tebal, hidung mbangir, bibir tipis yang eksotis dan kulit bersih. Maskulin.

“Rapi banget Le, ganteng begitu. Mau ke mana saja?” tanya Bu Fatimah penasaran.

“Mau nganter Yuni buk, katanya pengen jalan-jalan keliling kota pare. Sengaja dandan ganteng biar dikira pacarnya jadi enggak ada yang berani ngelirik putri ibu itu,” jawabnya sambil tersenyum dan duduk di sebelah ibunya.

Yuni tersenyum menahan tawa. Dirinya yang telah diajak Kong kali Kong oleh abangnya agar ibunda tidak mengetahui rencana pertemuan dengan Fara di kebun bibit hanya bergumam dalam hati, pinter juga cari alasan, padahal mau kencan.

“Le tolong pijitin kaki ibuk sebentar ya, telapak kaki rasanya nyeri buat jalan,” perintah Bu Fatimah.

“Biar Yuni saja Buk, sudah lama enggak mijitin ibu,” sahut Yuni yang duduk di hadapan Bu Fatimah.

“Enggak usah, tanganya Zaki lebih empuk. Biasanya juga Masmu yang mijitin,” kata Bu Fatimah sambil memberikan minyak GPU ke tangan Ustadz Zaki.

Memegang minyak itu, Ustadz Zakiterdiam beberapa saat tanpa ekspresi.Antara sedih dan juga ingin tertawa karena sudah berusahaberpenampilan maksimal ternyata harus memijit dengan minyak yang memiliki bau khas. Tapi tanpa pikir panjang langsung dibuka cairan berwarna kuning kecoklatan itudan jemarinya mulai memijit. Pekerjaan kecil perintah ibunya memang tak pernah bisa ia tolak.

Melihat mimik wajah kakaknya, Yuni tertawa lepas.

“Guyu opo to Nduk?,” Tanya Bu Fatimah.
(Apa yang membuatmu tertawa?)

“Enggak papa kok buk, lucu saja, Mas Zakisudah dandan ganteng maksimalgitu eh bau GPU,” jawab Yuni dengan tertawa.

Celoteh adiknya membuat Ustadz ganteng itu dan ibunya tertawa.Suasana pagi semakin hangat.

Jam menunjukkan pukul 08.15 putra lelaki yang masih memijit itu memberi kode pada adiknya agar memintanya segera berangkat.

“Buk sudah ya pijitnya, Yuni ingin segera berangkat, keburu siang.”

Bu Fatimah pun setuju. Dan menurunkan kaki dari pangkuan putranya.

“Pijitanmu memang mantap Le,sekarang sudah enggaknyeri. Ibuk ikut kalian ya,” pinta Bu Fatimah sambil menggerak-gerakkantelapak kakinya.

Ustadz Zaki yang sedang minum teh tersedak dan batuk-batuk mendengar permintaan ibunda. Yuni juga terkejut.

“Kalo minum pelan-pelan le biar enggak keselek.”

Anak laki-laki itu hanya tersenyum khawatir.

“Ibu ke kamar dulu ya, ganti baju,” kata wanita paruh baya bertubuh tinggi itu sambil berlalu menuju kamar.

“Masya Allah, mau ketemu aja berat bener cobaannya, masak iya kencan pertama gagal. Begini kalo tidak jujur,” kata Ustadz Zaki sambil memegang dahinya yang tiba-tiba terasa pening.
“Sabar, tenang, ini ujian, harus ditahan,” goda adiknya sambil tertawa.

“Kamu jangan ketawa aja Yun, bantu masmu, kalau ibuk ikut bisa kacau semuanya.

Mereka pun menghambur ke kamar ibunya dan berusaha membujuk agar tinggal di rumah tapi ibunya kekeh ingin ikut.

Ustadz Zaki mulai panik. Jantungnya berdegup kencang seperti senam aerobik. Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Dirinya segera keluar membuka pintu. Ternyata Mbah darti, ahli pijit datang.
“Jadi mau pijat sekarang Mbah? Nggak jadi nanti siang,monggo bisa kok, ayo ke kamar Ibuk” jawab Ustadz Zaki dengan semangat dan girang.

Lelaki berbadan tegap itu menghela nafas lega.Perasaannyabahagia seperti mendapatkan kursi haji yang segera berangkat tanpa harus mengantre puluhan tahun karena malaikat penolongnya datang tepat waktu.

Ustadz Zaki berpamitan dan minta maaf karena merasa bersalah telah berbuat tidak jujur pada ibunya.

Mobil bergerak keluar menyusuri jalan, dari Tulungrejo menuju Mejono.Tak butuh waktu lama, kini mereka telah masuk lokasi Wisata Kebun Bibit di jalan raya Mejono, Tegowangi. Pelemahan, Kabupaten Kediri.

Wisata kebun bibit yang unik, tidak hanya menyediakan aneka tanaman buah dan bibit saja, tetapi juga menyediakan tempat yang nyaman untuk nongkrong semua kalangan mulai anak-anak, remaja dan juga orang tua.

Pengunjung dimanjakan dengan adanya bebera Spot menarik yaituCafe out door dengan kolam ikan mini malis yang segar dipandang mata.Gazebo minidan juga terdapat kamar berjajarberbentuk segitiga sebanyak empat buah dengan desain apikmenjadi tempat yang menarik untuk foto Selfi.

Pengunjung bisa menikmati makanan di gazebo dengan suasana asri ala pedesaan karena berada di tengah pelataran bibit. Lebihasyik lagi, bisa menikmati durian segar dengan cita rasa manis dan legit.

[Ustadz aku sudah di lokasi. Duduk di gazebo paling utara] pesan What'sApp dari Fara masuk pada ponselnya.

[Tunggu sebentar ya. Sudah di parkiran] balasnya.

Ustadz Zaki mematikan mesin mobil dan bergegas keluar karena merasa tak enak membuat Fara menunggu.

“Babang sayang tunggu dulu, mau kencan sudah ganteng masak bau GPU,” goda Yuni sambil tertawa.

“Oh iya, lupa.”

Setelah memakai cairan wangi dirinyamerapikan rambut di spionmobil dan juga bajunya. Yuni mengamati tingkah laku abangnya dengan saksama.

“Begini ya kalo babang Ustadz lagi jatuh cinta. Ngaca terus kayak Emak-Emak mau foto ama bang Sandi Uno aja.”

Yuni memang jahil. Dia paling suka menggoda abangnya yang selama ini selalu bersikap cuek dengan gadis tiba-tiba jatuh cinta.

“Kamu belum merasakan jatuh cinta. Makanya meledek gitu. Sudah ayo keluar.”

Kakak beradik itu menuju tempat Fara, di gazebo paling Utara yang terletak di pelataran pohon bibit.
“Assalamualaikum,” sapa Ustadz Zaki dan adiknya.

“Waalaikum salam,” jawab Fara sambil menoleh dan meletakkan gawainya.

Ustadz Zaki menyatukan kedua tangan sebagai tanda bersalaman.
“Kenalkan ini adikku Yuni.”

Yuni pun segera bersalaman dan memeluk Fara. Kini mereka berbincang-bincang dengan saling berhadapan. Ustadz Zaki yang duduk di samping adiknya hanya mendengarkan, karena ingin mereka saling akrab lebih dulu.

Melihat Fara walau hanya sekilas hatinya semakin bergetar. Kerudung ungu dengan gamis longgar motif bunga yang senada membuat wajahnya terlihat semakin ayu.

“Mas, Yuni mau jalan-jalan sekalian pesan makanan ya, kalian silakan ngobrol, Mas Zaki sama mbak Fara mau makan apa?,” tanya Yuni dengan menyodorkan buku menu pada keduanya.
“Kamu di siniaja Yun, kalo mau pesen biasanya manggil mas nya yang jaga,” ucap Ustadz Zaki sambil memegang lengan adiknya.

Gemetar jemarinya dirasakan oleh Yuni. Dirinya yang mengerti bahasa tubuh abangnya menahan tawa dan menuruti.Ada aku aja grodi sampai gemetar apalagi kalo udah nikah dan hanya berdua di kamar pengantin. Gumam jahil adik perempuan itu.

“Fara bagaimana kabarmu sekeluarga? Ibu sehat?,” tanya Ustadz Zaki.

“Alhamdulillah, semuanya sehat.”

“Maafkan ibuku ya, kemarin menemuimu. “

“Enggak papa. Aku mengerti Bu Fatimah,” jawab Fara dengan tersenyum.

Begitulah Fara. Kalem, sabar dan lembut. Tidak ada raut marah sedikit pun pada Bu Fatimah dan sifatnya yang jujur membuat Ustadz Zaki semakin meleleh.

“Fara aku tulus mencintaimu. Aku ingin membangun rumah tangga denganmu. Pertama kali ibu menolakmu, mataku berusaha melupakanmu, tapi namamu masuk begitu saja ke hatiku tanpa terkendali karena kamu cinta pertamaku.”

Gadis itu hanya diam karenaingin mendengarkan semua isi hati lelaki yang mencintainya itu.

“Fara kita berjuang bersama ya, untuk mendapatkan restu ibuku,” ucap Ustadz Zaki penuh kelembutan.

“Tapi aku hanya gadis biasa. Aku tidak sepadan denganmu. Masih banyak wanitayang lebih baik dariku. Jika hubungan ini dilanjutkan, ibunya Ustadz akan semakin sakit. Aku membuat putranya tidak berbakti.”

Ustadz Zaki terdiam beberapa saat. Yuni yang sedari tadi diam menikmati lezatnya tahu petis hangat mulai tertarik untuk menyimak.

“Fara, ibu menolakmu bukan karena alasan syariat. Ketika laki-laki sudah mempunyai keinginan untuk menikah dan sudah menemukan calon istri yang shalehah, seiman seagama, orang tua tidak bisa melarang karena menikah itu kebutuhan pribadi, kebutuhan syahwat  yang tidak bisa dipenuhi oleh ayah dan ibu kecuali calon pasangan. Bahkan disarankan orang tua segera merestui agar pintu halal terbuka seluas-luasnya dan pintu haram karena maksiat tertutup serapat-rapatnya. Kita hanya perlu berjuang dengan santun dan lembut agar ibu tidak terluka.”

Fara masih terdiam. Gerimis membasahi bumi. Menemani suasana sejuk hati Ustadz Zaki yang berusaha meyakinkan bidadari pujaan hati.

“Fara, ibu tidak membencimu.Beliau hanya butuh waktu untuk mengenalmu lebih dekat.”

Takut dan ragu masih bersarang di hati Fara. Gadis itu khawatir jika karena penantiannya malah menyakiti hati seorang ibu yang telah melahirkan Ustadz Zaki dan juga takut dirinya terjebak dalam perbuatan maksiat lagi.

“Apa boleh jika seorang gadis menunggu orang tua calon laki-laki merestui?, tanya Fara dengan lugu.

“Boleh,asalkan menanti dengan Iman. Dengan menjaga pandangan dan hawa nafsu, bagaimana Fara?” tanya Ustadz Zaki.

Suasana kembali hening. Lelaki Shaleh, penyayang pada sosok Ibu mencintaiku dengan tulus. Dia mengerti hukum agama, Insyallah tidak akan berani menyentuhku sebelum halal. Aku memang mencintainya dan juga butuh sosok imam seperti dirinya.Ya Allah Bismillah. Ku niatkan ini sebagai tirakat menuju ibadah terlama, pernikahan. Gumam Fara dalam hati. Kemudian dia mengangguk sebagai jawaban.

“Alhamdulillah ... “ cetus bahagia Yuni yang juga menunggu jawaban dengan harap-harap cemas.

Rintik gerimis menjadi saksi di sisa waktu Dhuha yang lembut itu. Ustadz Zaki mendapatkan hati seorang gadis dikasihi. Kini dua hati itu telah bersatu menuju satu muara. Pernikahan.

“Bismillah ya Ra, kita hadapi bersama.”

Fara pun mengangguk dengan senyum termanisnya. Dua pasang mata itu saling bertemu sebentar. Dada Ustadz Zaki kembali bergetar. Begitu juga dengan Fara.

Fara, jangan senyum napa. Jadi pengen mandang terus, tapi takut dosa. Astaghfirullah hal azim. Ingat pesan abah Zak. Gumam ustadz Zaki dalam hati dengan menundukkan kepala.

Angin berhembus pelan dan langit cerah kembali,secerah suasana pasar papringan yang terdapat di bagian belakang kebun bibit. Terdapat aneka jajanan tradisional yang dijajakan di bawah pohon bambu itu. Klepon, cenil, lupis, lontong sayur, sawut, Sego jagung kulub dan aneka makanan lainya menggoda hati Yuni untuk mengunjungi.

Mereka bertiga berjalan menuju pasar, kedua gadis itu berjalan berdampingan. Sedangkan Ustadz berparas teduh itu berjalan di belakang.

Melihat Ustadz Zaki, sekitar sepuluh Emak-Emak sosialita yang duduk di gazebo besar untuk arisan bersama menghambur ke arahnya.

Ceramahnya yang ringan dan kekinian, serta parasnya yang tampan membuat dirinya digandrungi oleh remaja, ibu muda dan Emak-Emak milenial.

“Assalamu’alalikum Ustadz, Nggak nyangka ketemu di sini. Kami ini jama'ah nya Ustadz Lo,disini sama pacarnya ya?,” tanya salah satu emak yang memakai jumpsuite merah.
Ustadz Zaki menjawab salam dengan menyatukan kedua tangan. 

Saya disini dengan adik. Jawabnya dengan menunjuk Yuni dan Fara.

“Wah adiknya cantik-cantik,” sahut emak yang memakai rok kotak-kotak warna krem.

“Ustadz kita foto bareng yuk, mumpung Ustadz nggak pakai baju dinas, jadi kelihatan tambah keren, tujuannya baik ko, anak saya biar semangat ikut pengajian,” bujuk Emak yang memakai setelan baju warna merah.

“Baju dinas?” sahut Yuni penasaran.

“Iya, biasanya kan pake sarung,” jawaban kompak penuh semangat dari Emak-Emak membuat tawa pecah dan suasana semakin meriah.

Segerombol ibu-ibu yang memakai pakaian warna senada itu dengan cepat langsung pasang badan sehingga Ustadz Zaki yang berniat ingin mlipir tidak bisa. Dan kamera pun tidak bisa dihindari. Fara dan Yuni tergeser para sosialita yang lagi heboh berpose. Kini kedua gadis duduk di tangga Gazebo dekat lokasi foto.

Setelah beberapa kali jepretan, Ustadz Zaki pamit untuk melanjutkan jalan-jalan menuju pasar Papringan. Mereka menikmati jajanan tradisional.


Jam menunjukkan pukul 01.00. Pak Mahfud belum sampai dirumah. Merasa bosan akhirnya Bu Fatimah Stalking Facebook putrinya. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Kemudian menuju Facebokk Ustadz Zaki

Terlihat foto-foto putranya dengan para sosialita itu karena Facebook Ustadz Zaki ditandai. Terlihat pula Fara dan Yuni terjepret duduk di tepi Gazebo.

Tubuhnya menghangat. Darahnya mendidih, kecewa karena merasa anak-anaknya tidak jujur padanya.

"Ternyata kesana bertemu dengan Fara. Zaki berani kamu sama Ibuk, awas kamu," Gumamnya dengan bersungut-sungut.










BIBIRMU MASIH PERAWAN?

KETIKA USTADZ ZAKI JATUH CINTA
Part 3

Oleh Aning Miftakhul Janah




Resto Sribu Asri merupakan resto apung yang terletak di desa Bendo, kecamatan Pare. Lesehan nyaman dengan fasilitas pemancingan di depan saung menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

“Langsung saja ya Fara, ibu ingin minta bantuan sama kamu.”

“Apa yang bisa saya bantu?.”

“Bantu Zaki melupakanmu. tukasnya dengan penuh ketegasan.

Deg. Jantungnya bergetar hebat. Wanita cantik paruh baya itu seolah menancapkan belati tajam pada hatinya. Membuat gadis itu terdiam merasakan perih di dada.

“Fara, jangan diam. Masih banyak yang ingin ibu bicarakan,” serunya.

“Menurut Ibu apa yang harus saya lakukan?” tanya gadis itu dengan menahan luka di hatinya.”
“Jauhi Zaki!”

Mendengar seruan Bu Fatimah bibirnya tersenyum kecut.

“Saya tidak pernah mendekat. Kami bertemu hanya di acara rutin pengajian remaja Sabtu sore di Masjid Agung An- Nur. Selebihnya tidak ada pertemuan khusus,” jawab gadis berhidung Bagir itu.

“Bagus kalo begitu. Mulai sekarang, jika Zaki menghubingumu tolong abaikan. Agar dia semakin cepat melupakanmu.”

Fara memilih diam karena ingin wanita yang telah menolaknya itu menumpahkan seluruh isi hatinya.

“Fara Zaki membutuhkan wanita yang bisa berkarir dirumah. Jadwal ngajar dan ceramahnya padat. Belum lagi ngurus minimarketnya. Jika istrinya juga keluar, siapa yang menjaga anak-anak? Bukankah pendidikan utama dan pertama bagi anak adalah keluarga?.”

“Iya, Ibu benar. Kehadiran orang tua memang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh kembangnya. Saya bisa memahami.”

Nanar dihati Fara tidak lantas menjadi kabut di hatinya, sehingga masih bisa berfikir jernih mencerna kalimat Bu Fatimah.

“Kemaren ada lamaran untuk Zaki. Katakanlah ada dua pilihan, pertama seorang gadis yang pernah berhubungan dengan laki-laki dan tidak bisa menjadi ibu rumah tangga karena harus bekerja di pabrik rokok, ikut andil meluncurkan produk yang memiliki efek negatif.”

Paras ayu itu termangu mendengar kalimat tajam yang menusuk relung hatinya.

“Yang kedua seorang muslimah yang tumbuh di lingkungan pesantren, pergaulanya jelas dan terjaga. Dan bisa fulltime jadi ibu rumah tangga.”

“Pilihan kedua tentu lebih baik. Kamu juga punya adik laki-laki, pasti ingin Faris mendapatkan istri yang terbaik kan. Sekarang kamu mengert maksud ibu?” tanya Bu Fatimah.

“Iya. Saya mengerti perasaan ibu.”

“Baik. Ibu sudah mendengar apa yang ibu inginkan. Terimakasih untuk hari ini. Saya pulang dulu. Karena waktu juga sudah sore.”

Setelah meneguk seperempat gelas Bu Fatimah bergegas meninggalkan Fara, membayar minuman kemudian melajukan mobil menuju rumah.

Fara masih terpaku di Saung mini persegi ukuran dua meter itu. Pipinya basah, butir bening yang sedari ditahan kini pecah. Hembusan angin yang membelai sore itu tak mampu membuat hatinya adem.

Teringat Pak Suyut yang menunggu di depan, dirinya bergegas menuju kasir kemudian meninggalkan resto.

“Wah borong nasi pak?” tanya Fara melihat lima tumpuk kotak nasi ayam bakar terbungkus kantong Kresek putih transparan yang terletak di bangku becak.

“Oh ndak mbak. Ada orang dermawan yang berbagi Rizki. Ini yang namanya Yarzuqu min haitsu la yahtasib. Rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Siapapun dia, semoga Allah membalas dengan kebaikan berlipat ganda. Di beri kesehatan, kebahagiaan dan dilancarkan segala urusannya,” jawab Pak Suyut dengan mata berkaca-kaca dan nada hari bahagia.

Senyum mengembang di bibir gadis itu. Do'a dan gurat bahagia Pak Suyut menghibur hatinya yang sedang kalut. Berbagi memang memberi kebahagiaan tersendiri. Gumamnya dalam hati.

Berbagi hal kecil bisa berarti besar bagi orang lain. Membuat Fara semakin semangat bersedekah.
“Amin. Sudah sore pak. Ayo antar saya pulang.”

Becak melaju pelan menyusuri persawahan yang membentang di sepanjang jalan kecil itu. Fara masih terpaku memikirkan semua kalimat Bu Fatimah.

Jalan demi jalan di lalui, becak itu mengantarkannya sampai dirumah.

°°°
Jam menunjukkan pukul 20.10 WIB, Fara yang biasanya masih bersenda gurau dengan ibunya di ruang keluarga kini lebih memilih di kamar. Menyandarkan punggungnya di bahu ranjang empuk berwarna biru dongker itu. Terngiang semua kalimat Bu Fatimah.

Sekarang aku paham, mengapa dalam ilmu Fiqih, Taharah (Bersuci) menjadi pembahasan pertama, karena kesucian bagi seorang wanita menjadi nilai harga diri. Penjagaan pada diri menjadi simbol kesucian. Andaikan aku dulu nggak pacaran, mungkin seseorang tidak akan memandangku negatif. Gumamnya dalam hati.

Teringat pula pandangan buruk Bu Fatimah mengenai pekerjaannya. Kini tangisnya pecah tidak terbendung.

Bu Nur merasa khawatir dengan putrinya, tidak biasa anak gadisnya itu langsung tidur secepat itu. Diketuklah pintu kamar. Fara segera mengusap air matanya dan mempersilahkan ibunda masuk.

“Matamu merah nduk seperti habis menangis. Ada apa? berbagi sama ibuk nak.”

“Faris sudah tidur buk?.”

“Dia mengerjakan tugas liburanya di kamar. Ayo cerita sama ibuk.”

Tak kuat menahan kesedihan yang meluap di dada, gadis itu menceritakan semuanya.

“Nduk kamu memang pernah pacaran, tapi sudah berhijrah. Biarlah orang lain memandang apa, yang penting dihadapan Allah kamu sungguh-sungguh bertaubat dan memperbaiki diri.”

“Mengenai pekerjaanmu, rokok memang banyak mudlorotnya jika dipandang dari satu sisi. Tapi jika dilihat dari sudut pandang yang yang lebih luas, ada dampak positifnya juga. Berapa ribu nyawa manusia yang menggantungkan sumber penghasilan dari rokok mulai dari pekerja pabrik, petani tembakau dan cengkeh. Juga para distributor dan sales. Belum lagi para agen dan pengecer kecil, toko kelontong yang turut merasakan laba dari penjualan rokok. Bahkan pabrik menjadi salah satu penyumbang pajak yang cukup besar bagi negara. Uangnya kan kembali ke rakyat, untuk membangun sarana publik seperti jalan, atau bantuan lainya untuk rakyat."

Pandangan luas Bu Nur sedikit menenangkan hati Fara. Wanita paruh baya itu memang lemah secara fisik. Tapi pikirannya cukup terasah karena setiap hari mengikuti perkembangan informasi di telivisi dan surat kabar.

“Tapi Nduk, Bu Fatimah itu ada benarnya lo. Bagi wanita, pencapaian karier terbaik itu ketika mampu mencetak anak-anak yang sholeh, sehat jasmani maupun rohani dan bermanfaat bagi orang lain. Biasanya ibu pekerja tidak punya banyak waktu untuk anak-anaknya. Apa nggak sebaiknya kamu mencoba berwirausaha usaha yang bisa dikerjakan dirumah? Agar nanti kalo menikah dan punya anak bisa punya banyak waktu untuk keluarga,” usul Bu Nur.

“Kalo aku berhenti nanti gimana dengan sekolah Faris yang setiap bulan butuh biaya pasti sedangkan wirausaha butuh waktu, tidak instan langsung berhasil.”

“Mbak itukan manager pemasaran, pasti menguasai ilmu-ilmu berniaga. Jualan saja. Bismillah, Insyaallah pasti bisa,” sahut Faris yang ternyata sedari tadi mendengarkan pembicaraan di balik pintu yang sedikit terbuka. Tubuh tinggi kerempeng itu kini juga ikut duduk di tepi ranjang.

“Kamu nguping?,” tanya Fara.

“He he he, maaf ya mbak, kalo tadi aku muncul pasti pembicaraan tidak terbuka seperti ini seperti ini,” jawab Faris sambil tertawa.

“Faris bener nduk. kita bisa bersama-sama jualan barang atau jasa. Ya yang sesuai dengan hoby mu saja, biar menyenangkan.

Keluarga itu selalu kompak. Saling sayang dan peduli satu sama lain.

“Fara pikirkan dulu ya buk.”

“Jualan brownies saja mbak. Katanya Ustadz Zaki aja enak, buka toko, minta di endorse sekalian, followernya kan banyak. Nanti pasti laris. Eh jangan deh emaknya garang,” kata Faris sambil tertawa.
Mereka pun tertawa. Fara yang tadi hanyut dalam kesedihan kini sudah mulai mencair dan mengembangkan bibir. Ibu dan dua anak itu kini mulai bercanda seperti biasa karena Faris selalu berusaha menghibur kakaknya.

°°°
“Jadi ibu tadi menemui Fara dan mengatakan semua itu? sepertinya Abah mulai kehilangan perhiasan berharga yang selama ini Abah banggakan,” kata pak Mahfud pada istrinya dengan nada kecewa.

“Kehilangan perhiasan? maksudnya Abah apa?”

“Sadar atau tidak, sikap Ibu tidak lagi mencerminkan wanita Sholehah. Standar tinggi calon mantu membuat Ibu merendahkan orang lain. Alih-alih menyayangi anak malah ibu lupa bahwa di hadapan Allah semua manusia sama, yang membedakan hanya keimanan. Dan hanya Allah yang berhak menilai keimanan dan kesucian seseorang. Bahkan Ibu lupa dengan kebahagiaan anak sendiri.”

Bu Fatimah terdiam mendengar suaminya bicara dengan nada kecewa.

“Tadi pagi Abah dan Zaki sowan ke ndalem Kiai Hanan, dawuhnya bagus untuk dilanjutkan. Mana yang lebih masuk? Prasangka Ibu yang belum tentu benar atau Istikharah Kiai Hanan?” tanya Pak Mahfud dengan penuh ketegasan.

“Abah tidak matur kalo tadi sowan ke ndalem Kiai, jadi Ibu tidak tau,” jawab Bu Fatimah dengan nada melas.
“Makanya kalo mau bertindak itu tanya dulu sama Abah, tadi juga ijinnya mau ke Bilqis ambil seragam ibu-ibu muslimat, ternyata sampe ke resto juga. Abah tidak suka seperti itu.”

Bu Fatimah diam tertunduk di tepi ranjang kamar tidurnya.

“Abah heran. Pemikiran ibu jadi sempit. Tidak lagi anggun seperti biasanya. pemikiran tentang rokok pun juga ciut, padahal banyak yang menerima manfaat dari keberadaan rokok. Menyerap pengangguran, menyumbang penghasilan negara maupun rakyat kecil yang jualan.”

“Dibungkusnya saja sudah tertera jelas merokok membunuhmu, berarti pabrik itu tidak hanya menciptakan sumber penyakit tetapi juga memberi peringatan. Fara hanya berusaha menyambung hidup. Karena nasibnya tidak seberuntung gadis lain seusianya yang masih mendapatkan curahan harta dari orang tua,” tegas pak Mahfud yang berdiri di depan lemari baju dengan melipat tangan.

Bu Fatma masih tertunduk. Meresapi setiap kalimat dari suaminya. Sedangkan Pak Mahfud menarik nafas panjang untuk menahan amarahnya.

“Muhasabah diri buk, demi kebaikanmu” seru pak Mahfud sambil berlalu meninggalkan kamar menuju taman belakang untuk mencari udara segar.

°°°
Malam yang cerah dengan bintang yang yang berjajar tidak beraturan di langit hitam. Purnama membulat, menyinari bunga kertas berwarna merah dan kuning serta bunga Wijaya Kusuma yang tidak mendapatkan temaram lampu taman.

Terlihat putranya sedang duduk di kursi kayu panjang berwarna putih yang terletak di tengah taman.
“Masih di luar Le,” sapa Pak Mahfud.

“Abah, Monggo duduk bah.”

Pak Mahfud duduk di samping putranya sambil mengamati tong sampah kecil di depan kursi yang penuh dengan kertas.

“Sudah menghubungi Fara?,” Tanyanya penuh selidik.

“Sakit Bah, whatApp Zaki tidak ada satu pun yang di balas,” jawab Ustadz Zaki dengan lesu.

“Memangnya sudah berapa kali kirim whatsApp?.”

“Banyak Bah. Dari tadi pagi. Barusan juga. Padahal Zaki sudah mati-matian bikin surat cinta, kertasnya aja hampir habis sebuku untuk bikin kata-kata. Eh Cuma di read doang kaya surat kabar aja.”

“Ha ha ha, namanya juga pejuang cinta. Jangan putus semangat.”

“Nyesek Bah, dari dulu susah jatuh cinta. Sekarang ketika hati ini bisa berlabuh, ibuk tidak ridho. Dicuekin pula. Gini amat nasib Zaki.”

Pak Mahfud semakin tertawa mendengarkan curahan hati putranya. Lelaki gagah nan tangguh, pekerja keras dan kuat berzikir dari tengah malam hingga Fajar ternyata memiliki kelemahan. Cinta.

“Sabar. Kalo mau naik kelas kan memang harus ujian dulu. Coba Abah lihat apa yang kamu kirim.”

Ustadz Zaki pun memberikan ponselnya.

~
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Fara bagaimana kabarmu?

Salam hangat dariku, sehangat mentari pagi yang menyapa dedaunan.

Fara, bidadari cantik pemilik hatiku, meski Ridho ibu menghalangi, tidak sedikit pun melunturkan rasaku karena Sang Pemilik Semesta, Allah Azza Wajalla telah menurunkan tetesan embun surga bernama CINTA dikalbuku. Untuk mu. Dan hanya dirimu.

Fara, hanya dihatimulah hatiku berlabuh. Berikan aku waktu untuk memperjuangkan cinta ini.
Jaga selalu hatimu hingga aku benar-benar bisa membawamu menuju istana cinta, pelaminan.

Haqqul yakin, kita akan segera berada dalam ikatan suci pernikahan. Membina keluarga kecil. Melahirkan generasi Qur'ani yang berakhlakul Karimah dan berbudi pekerti luhur.
Bahkan namamu selalu kusebut dalam rintihan do'aku.

Kutunggu jawabanmu. Gadis Sholehah yang elok nan ayu.
~

“Wah romantis juga kamu Le,” puji pak Mahfud sambil tersenyum.

“Demi Fara Bah, ” jawab ustad Zaki sambil tersenyum.

“Ya jelas dia tidak membalas, karena tadi baru dapat shock terapi dari ibumu.”

“Ibu ngapain Bah?,” tanya Zaki penasaran.

“Intinya memintanya untuk menjauhimu.”

Lelaki berhidung Bangir itu tertunduk lesu.

“Jangan marah sama Ibuk. Caranya memang salah, tapi tujuannya baik. Saking sayangnya sama kamu Sampek begitu.”

Ustadz Zaki menghela nafas panjang.

Mumpung belum terlalu malam, sekarang telepon Fara. Tunjukkan kesungguhanmu. Ajak ketemu mumpung besok hari minggu dan adikmu juga lagi dirumah. Jadi kamu ada teman untuk menemuinya.”

Tanganya pun meraih benda datar persegi itu. Jemarinya mengusap layar, menuju panggilan. Dengan mengucap basmallah dirinya memencet nomor Fara.

Panggilan pertama lewat. Kedua masih Sama. Ketiga tidak juga dijawab.
Matanya memandang kecewa ke arah abahnya.

“Coba lagi. Semoga Allah mengetuk hatinya untuk menjawab,” kata Pak Mahfud memberi semangat.
Di taman itu, cahaya rembulan menemani ayah yang sedang memberi semangat pada putranya untuk meraih cinta.
Disudut yang lain, hati Fara yang teriris berusaha menghindari rasa cinta itu.

Tik tok tik tok
.
Suara handphone Fara kembali berbunyi. Disampingnya masih ada ibu dan adiknya.

“Dijawab saja Nduk. Kasian dari tadi kamu cuekin. Beri kepastian sekalian agar dia tidak berharap kamu mau menunggunya,” usul Ibunya.

“Assalamu’alalikum Ustadz.”

“Waalaikum salam warahmatullah. Alhamulillah, akhirnya kamu menjawab.” jawab Ustadz Zaki dengan nada bahagia.

Pak Mahfud meminta Zaki menyalakan pengeras suara handphone agar dirinya bisa mendengarkan. Begitu juga dengan ibunya Fara.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Ustadz Zaki.
“Alhamdulillah sehat.”

“Fara aku mencintaimu. Rasaku padamu sepeti yang tertulis tadi. Fara besok tolong temui aku ya.”

“Maaf Ustadz. Aku tidak bisa. Mulai sekarang tolong jauhi aku. Karena aku tidak bisa menunggumu.”

Pak Mahfud memberi kode pada putranya untuk berbicara mengikuti kalimat yang ia tulis.

“Fara Abah sudah merestui hubungan kita. Abah mendukung dan membantuku memperjuangkanmu. Aku yakin ibuku akan luluh. Sekali ini saja tolong temui aku. Kita bicarakan dari hati ke hati dan dengan kepala dingin.”

Bu Nur memberi kode pada putrinya untuk menerima ajakan itu.

“Baik. Dimana?” tanya ustadz Zaki

Pak Mahfud kembali menyodorkan tulisan tempat untuk mereka bertemu.

“Di tempat wisata kebun bibit, Tegowangi, Pelemahan. Jam sembilan pagi. Aku ngajak adiku.”
“Iya. Sampai ketemu besok. Assalamu’alaikum.”

Ustadz Zaki sontak memeluk abahnya. Hatinya bahagia karena bidadari terkasih menerima ajakannya.
“Makasih bah.”

Pak Mahfud senang melihat gurat bahagia yang terpancar di wajah putranya.