Senin, 25 Februari 2013

Kesucian Gunung Bromo dan Gunung Semeru

Oleh : Novi BmW

Gunung Bromo
(Foto : Novi BmW, 31/06/2010)

Gunung Bromo dan Gunung Semeru merupakan dua gunung suci dari sembilan gunung suci di Jawa. Perihal kesuciannya tersebut diabadikan dalam Kitab Tantu Panggelaran. Kitab ini berasal dari tahun 1557 Saka (1635 M)[1]. Dalam kitab ini diceritakan tentang proses pemindahan Gunung Mahameru oleh para Dewa dari tanah Jambudwipa[2] ke pulau Jawa, dan terbentuknya gunung-gunung di Jawa. Beginilah kisahnya:
Col andap kulwan, maluhur wetan ikang nuşa jawa; yata pinupak sang hyang mahāmeru, pinalih mangetan. Tunggak nira hana kari kulwan; matangnyan hana argga kelāça ngarannya mangke, tunggak sang hyang mahāmeru ngūni kacaritanya. Pucak nira pinalih mangetan, pinutĕr kinĕmbulan dening dewata kabeh; runtuh teka sang hyang mahāmeru. Kunong tambe ning lĕmah runtuh matmahan gunung katong; kaping rwaning lmah runtuh matmahan gunung wilis; kaping tiganing lmah runtuh matmahan gunung kampud; kaping pat ing lmah runtuh matmahan gunung kawi; kaping limaning lmah runtuh matmahan gunung arjuna; kaping nĕm ing lmah runtuh matmahan gunung kumukus.
Goweng sisih ring iswar dening runtuh sang hyang mahāmeru, yata condong mangalwar pangadĕgnira, (molah pukah pucaknira). Yata inadĕgakĕn dening watĕk dewata pucak sang hyang mahāmeru. Ih pawitra ling ning dewata kabeh; yata ring pawitra ngaranya mangke pucak sang hyang mahāmeru kacaritanya ngūni. Kunang pwa tan apagĕh sang hyang mahāmeru, sumanda ring gunung brahmā sira wkasan, apan wyakti rubuh sang hyang mahāmeru, yan tan sumandaha ring gunung brahmā, apan sira goweng sisih iswar. Nimitanira apagĕhana ring gunung brahmā, rĕp mapagĕh pangadĕg sang hyang mandaragiri; yata matangnyan apagĕh tikang nuşa jawa mari molah marayĕgan, nisadapagĕh. Yata matangyan sang hyang mahāmeru inaranan gunung nişada (Pigeaud, 1924).
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Dilepaskan turun di sebelah barat, menuju ke timur pulau Jawa. kemudian dilepaslah Sang Hyang Mahameru, dipindah ke timur. Dasarnya tertinggal di barat. Oleh sebab itu terciptalah gunung yang bernama Kailaca nanti. Mengenai Sang Hyang Mahameru beginilah ceritanya. Puncaknya dipindah ke timur, dikitari oleh semua para dewa; runtuh dari Sang Hyang Mahameru. Setelah jatuh ke tanah terciptalah Gunung Katong[3]; yang kedua tanah jatuh menciptakan Gunung Wilis; yang ketiga tanah runtuh tercipta Gunung Kampud[4]; yang ke empat pada tanah yang runtuh tercipta Gunung Kawi; yang kelima tanah runtuh menciptakan Gunung Arjuno; yang keenam tanah runtuh menciptakan Gunung Kamukus[5].
                Rusaklah bagian bawah setelah runtuhnya Sang Hyang Mahameru, lebih ke arah utara berdiri tegak (bagian potongan puncaknya). Di sanalah berdiri tempat para dewa di puncak Sang Hyang Mahameru. Di pindah ke Pawitra[6] maksud para dewa semua, disebut Pawitra nanti puncak Sang Hyang Mahameru, seperti diceritakan tadi. Diketahuilah kekokohan Sang Hyang Mahameru, bersandar pada Gunung Brahma untuk terakhir kalinya. Setiap kali Sang Hyang Mahameru rubuh maka bersandarlah ke Gunung Brahma tetaplah kokoh berdiri Sang Hyang Mandaragiri. Oleh sebab itulah berdiri kokoh Pulau Jawa setelah (sebelumnya) bergoncang. Duduk kokoh. Oleh karena itulah Sang Hyang Mahameru disebut pula Gunung Nisada….(Munib, NB. 2011).
Gunung Semeru
(Foto : Novi BmW dari Cuban Rais, Kota Batu)
Dari kutipan di atas, diketahui bahwa Gunung Bromo disebut “Gunung Brahma” sedangkan Gunung Semeru disebut dengan “Sang Hyang Mahameru”. Gunung Bromo dan Gunung Semeru merupakan tubuh terbesar yang terakhir jatuh di tanah Jawa. Konsep terciptanya deretan gunung di pulau Jawa, yaitu proses pemindahan Gunung Meru dari India ke Jawa sepertinya adalah upaya pemindahan kosmologi Hindu-India ke Hindu-Jawa. Kesucian gunung-gunung di tanah Jawa sama dengan kesucian Gunung Meru. Puncak Meru yang disebut “Kailaca” sama dengan kesucian Gunung Pawitra, karena menurut kosmologi Hindu-Jawa, Pawitra merupakan puncak Kailaca yang dipindah ke Pulau Jawa. Walaupun tubuh utama Gunung Mahameru menjadi Gunung Semeru-Bromo namun puncak kesakralan berada di Gunung Penanggungan puncak Kailaca.
Rujukan:
Pigeaud, Th G T. 1924. De Tantu Panggelaran. Leiden: s’Gravenhage, Nederl. Boek en Steendrukkerij voorheen H.L. Smits. 
Novi BM, 2011. Dinamika Kekuasaan Raja Jayakatyəng di Kerajaan Glang-Glang Tahun 1170-1215 Çaka: Tinjauan Geopolitik. Skripsi. Malang: FIS UM

NB : Tulisan ini merupakan hasil "Migrasi" dari www.artiistilah.blogspot.com (alm)

[1] Terdapat pada penutup kitab “tlas (s)inurat sang hyang tantu panglaran ring karangkabhujanggan kutritusan, dina u(manis) bu(dha) madangsya, titi sasi kasa, rah 7, tengek 5, rsi pandawa buta tunggal(1557)”(Pigeaud, 1924)
[2] Nama kuno wilayah India
[3] Nama kuno Gunung Lawu
[4] Nama kuno Gunung Kelud
[5] Nama kuno Gunung Welirang
[6] Nama kuno Gunung Penanggungan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar